Sejarah Sri Lanka: Dari Kolonialisme Hingga Kemerdekaan
Sri Lanka atau Repubik Sosialis Demkratik Sri
Lanka adalah sebuah negara pulau yang terletak di bagian tenggara anak benua
India dan sebelah utara dari samudera Hindia. Ibu kota Sri Lanka berada di
Colombo yang terletak di barat daya pulau tersebut. Wilayah Sri Lanka memiliki
luas 65.610 km² dengan luas daratannya mencapai 62.705 km² atau 95,6% dari total luas
keseluruhan. Secara topografi Sri Lanka didominasi oleh dataran tinggi dan
pengunungan dibagian tengah dan beberapa daratan rata yang terletak di pesisir.
Secara demografi penduduk Sri Lanka didominasi oleh etnis Sinhala yang
berjumlah 74,8% dari total keseluruhan penduduk, dilanjutan oleh etnis Tamil
Sri Lanka (11,2%), Tamil keturunan India (4,1%), Moor/ keturunan Timur Tengah
(9,2%), keturunan Eropa (1,8%), keturunan Melayu (1,9). Mayoritas penduduk Sri
Lanka beragama Budha sebanyak 70,1%, kemudian Hindu (12,6%), Islam (9,7%),
Kristen (7,4%), dan lain-lain (0,2%).[1]
Sri Lanka mendapat kemerdekaannya pada 4
Februari 1948 sebagai negara persemakmuran Inggris (Dominion of Ceylon dari
kerajaan Inggris). Sebelum menjadi negara yang bernama Sri Lanka, dahulu negara
ini dikenal dengan nama Ceylon. Nama Ceylon disematkan pada masa kolonialisme
Inggris yang berasal dari nama Portugis. Akhirnya pada tahun 1972 Ceylon
diganti dengan Lanka yang berasal
dari bahasa Sansekerta yang artinnya “Tanah Bersinar” dan ditambahi kata
penghormatan “Sri” yang bahasanya lebih dekat kepada bahasa Sinhala dan Tamil.[2]
Seperti bangsa-bangsa dikawasan Asia Selatan, Sri Lanka juga pernah mengalami
penjajahan oleh bangsa Eropa atau kolonisasi. Sri Lanka dijadikan tujuan
kolonisasi dikarenakan Sri Lanka memiliki SDA yang potensial (seperti kayu
manis) dan letak Sri Lanka yang dinilai cukup strategis sebagai jalur perdagangan. Periode kolonisasi
Sri Lanka dapat dibedakan menjadi tiga periode, yaitu masa Portugis, masa
Belanda, dan masa Inggris.
A.
Portugis
Pada abad ke-16 bangsa-bangsa Eropa terutama
Portugis memulai perjalanannya untuk mencari sumber rempah-rempah dari tempat
asalnya dan melakuan dominasi terhadap perdagangan rempah-rempah di pasar
Eropa. Kala itu Portugis telah memiliki kekuatan yang memadai dengan adanya
kapal-kapal canggih dengan senjata modern pada masanya terpasang didalamnya.
Portugis tidak melakukan penaluan wilaya secara besar-besaran, namun lebih ke
mendominasi posisi-posisi strategis yang berhubungan dengan jalur perdagangan. Di
Sri Lanka pada masa itu terdapat tiga kerajaan yang mendominasi yaitu Kerajaan
Kandy di bagian tengah pulau, Kerajaan Kotte terletak di bagian barat pesisir
pulau, dan Kerajaan Tamil di Jaffna.
Pada tahun 1505 M, sebuah misi diberikan kepada
Lourenco de Almeida untuk mencari wilayah yang memiliki potensi. Lourenco
sendiri merupakan anak dari wakil Portugis di India. Rombongan Lourenco akhirnya
tiba di pelabuhan Galle, dikarenakan kapalnya terkena badai. Di sana ia
berkenalan dengan baik dengan Vira Parakrama Bahu VIII, seorang raja dari kerajaan Kotte. Hubungan bai ini
terus berlanjut hingga pada tahun 1518, Portugis mendapat izin dari Kotte untuk
membangun benteng di Kolombo dan diberi kebebasan dalam berdagang rempah-rempah
terutama kayu manis yang memiliki harga jual yang tinggi di kawasan Eropa. Pada
akhir 1530 sempat terjadi konflik dengan pedagang muslim untuk merebut dominasi
perdagangan. Namun karena adanya perbedaan tingkat teknlogi persenjataan,
membuat Portugis berhasil memukul mundur pedagang Arab. Keberhasilan ini
semakin mendorong Portugis untuk mendominasi seluruh kawasan Sri Lanka baik
secara ekonomi maupun secara religi dengan menyebarkan ajaran-ajaran Kristen.
Pada tahun 1521 Portugis menemukan celah untuk
memulai dominasinya dengan munculnya intrik di Kerajaan Kotte. Pada saat raja
Vijayabahu meninggal dunia Kerajaan Kotte menjadi terpecah menjadi tiga. Anak
pertama Bhuvanaika Bahu yang menjadi
raja dan memerintah di Kotte dan dua saudara ikkut mendirikan kerajaannya
sendiri, seperti Mayadunne menjadi raja di Sitawake dan saudaranya yang
terakhir memerintah di Rayigama.[3] Raja
Mayadunne yang memiliki sikap ambisius ingin menyatukan wilayah saudaranya
untuk dirinya sendiri. Kewalahan dengan tekanan dari saudaranya, Bhuavanaika
akhirnya meminta bantuan kepada Portugis untuk melawan agresi Mayadunne. Pada
akhirnya Portugis berhasil menghalangi agresi yang dilakukan kerajaan Sitawake
dan merebut sebagian besar tanah diwilayah tersebut. Pada tahun 1580, sebagai
imbalan atas bantuan Portugis terhadap kerajaan Kotte, Dharmapala (cucu dari
Bhuvanaika Bahu) diminita oleh Portugis untuk menyerahan kerajaannya setelah ia
meninggal. Pada tahun 1597 Dharmapala akhirnya meninggal dunia dan Portugis
secara resmi memiliki kuasa penuh terhadap wilayah kerajaan Kotte.
Portugis melanjutan ambisinya untuk
mengkolonisasi Sri Lanka dengan target selanjutnya adalah kerajaan Jaffna yang
terleta di sebelah utara pulau.
Ekspedisi pertama dimulai pada tahun 1560 yang berakhir dengan kegagalan
Portugis. Ekspedisi kedua dimulai pada tahun 1591 dengan dorongan dari
misionaris Kristen, namun karena ekspedisi tersebut membuat konflik menjadi
berkelanjutan. Pada akhirnya hal tersebut membuat Portugis melakukan ekspedisi
ketiganya dan membuat raja Tamil melarian diri menuju selatan. Pada tahun 1619
Kerajaan Jaffna berhasil ditaklukan oleh Portugis, kemudian salah satu pengeran
Tamil yang setia kepada Portugis dinobatkan menjadi raja di sana dengan
kewajiban membanyar umpeti kepada Portugis setiap tahunnya.[4]
Dengan ditalukkannya dua dari tiga kekuasaan dominan di Sri Lanka membuat posisi
Portugis semakin mapan. Portugis saat itu menguasai sebagian besar pulau kecuali
dataran tinggi dibagian tengah dan pantai di timur pulau yang menjadi kekuasaan
Kerajaan Kandy.
Keinginan
untuk mendominasi seluruh Sri Lanka membuat Portugis menargetkan kekuatan
terakhir Sri Lanka, yakni Kerajaan Kandy. Untuk menguasai Kerajaan Kandy Portugis
menggunakan taktik yang sama pada saat menalukkan Kerajaan Kotte dan Jaffna,
yaitu dengan membuat raja boneka yang dapat dikontrol oleh Portugis. Namun cara
tersebut tidak terlalu efektif untuk melemahkan Kandy. Berbagai upaya dilakukan
Portugis untuk menyebaran pengaruhnya di Kandy, namun berujung gagal.
Sebaliknya rasa curiga dan permusuhan justru semakin meningkat terhadap pasukan
Portugis. Memanfaatan ketegangan antara Portugis dengan penduduk pribumi,
Vimala Dharma Surya melancarkan serangan gerilya terhadap pasukan Portugis pada
tahun 1594. Pada tahun 1630 orang-orang Kandy melakukan serangan diam-diam
terhadap pasukan Portugis termasuk kapten. Pemberontakan-pemberotaan semacam
ini terus dilakukan oleh penduduk Kandy, sehingga mencegah pasukan Portugis
untuk masuk lebih ke pedalaman. Namun serangan tersebut belum bisa mengusir
Portugis dari Sri Lanka. Vimala juga menyadari tanpa adanya kekuatan laut yang
memadai hal tersebut akan sulit tercapai.
B.
Belanda
Bangsa Belanda pertama kali melakukan kontak
dengan Sri Lanka pada tahun 1602, ketika utusan Belanda, Joris van Spilbergen
menjanjikan bantuan militer kepada Vimala Dharma Surya untuk mengusir Portugis.
Namun karena esalah komunikasi penyerangan gabungan tersebut gagal. Beberapa
kali kerajaan Kandy membuat kontak dengan Belanda demi mengusir Portugis dari
Sri Lanka. Pada akhirnya kerja sama kedua bangsa itu membuahkan hasil pada
tahun 1638 dikarenakan Belanda pada waktu itu sudah memiliki posisi yang mapan
di Nusantara (tepatnya di Batavia). Raja Rajasinha II (raja kerajaan Kandy pada
waktu itu) membuat perjanjian dengan
laksamana Belanda, Adam Westerwolt yang disahkan pada 23 Mei 1638. Isi dari
perjanjian tersebut diantaranya ialah bahwa Belada mendapatkan hak atas
monopoli sebagian besar perdagangan kayu manis di Sri Lanka dan pihak kerajaan
wajib mengganti biaya perang yang telah dikeluarkan selama pertempuran. Pada
bulan Mei 1639M Belanda berhasil merebut pelabuhan disisi timur, Trincomalee
dan Batticaloa yang kemudian dikembalikan kepada pihak kerajaan. Namun untuk
pelabuhan disisi barat, Galle dan Negombo yang ditaklukan pada tahun 1640 pihak
Belanda menolak untuk menyerahkannnya dengan alasan pihak kerajaan belum membayar biaya perang
yang telah dikeluarkan. Pada bulan Aguustus 1655, Belanda mendatangkan armada
tambahan dibawah pimpinan Jendral Gerard Hulft sebagai persiapan untuk menyerbu
Kolombo yang digunakan sebagai pusat aktifitas Portugis. Belanda berhasil
merebut Kolombo pada bulan Mei 1656. Pada saat raja Rajasinha II untuk mengembalikan
Kolombo, Belanda menolak mentah-mentah permintaan tersebut. Hal itu tentu
membuat geram Rajasinha II, ia menyadari bahwasannya Belanda tidak jauh berbeda
dengan Portugis. Penyerangan terakhir dilakukan Belanda untuk merebut Jaffna,
benteng terakhir Portugis. Pada akhirnya Jaffna jatuh pada bulan Juni 1658.[5]
Portugis secara resmi keluar dari Sri Lanka digantikan oleh Belanda.
Menyadari bahwa apa yang ia lakukan hanya
menggati musuh lama dengan musuh baru. Raja Kandy memutuskan untuk melakukan
perlawanan terhada Belanda. Bahkan Raja Kandy berusaha untuk bersekutu dengan
Inggris demi mengusir Belanda. Karena sikap Raja Kandy yang meminta bantuan
Inggris, menimbulkan konflik di kerajaannya sendiri. Ketidakstabilan di
kerajaan dimanfaatan dengan baik oleh Belanda untuk mengasai
pelabuhan-pelabuhan yang tersisa. Hal ini dilakukan untuk mencegah Kandy
melakukan kontak dengan bangsa asing kembali untuk melawan Belanda. Karena pada
dasarnya Belanda hanya ingin mendominasi perdagangan di Sri Lanka. Oleh karena
itu Belanda tidak mencoba untuk menguasai kerajaan Kandy. Peperangan terbuka
hanya terjadi satu kali pada tahun 1762. Peperangan tersebut berakhir dengan
ditandatanganinya perjanjian bahwa kerajaan Kandy mengaui kedaulatan Belanda
atas dataran rendah.
Kedatangan Belanda memberikan pengaruh yang
cukup signifikan terhadap Sri Lanka. Pada bidang pemerintahan beberapa wilayah
dibagi menjadi beberapa tingkatan. Kolombo sebagai pusat diperintah oleh
gubernur, sedangkan untuk Galle dan Jaffna dipimpin oleh komandan. Kemudian
dari tida daerah tersebut dibagi lagi menjadi dissavani (provinsi) dan kebawah lagi terdapat korales (distrik). Pada bidang ekonomi, Belanda mendorong penduduk
setempat untuk menanam tembakau dan kopi yang pasarnya telah ada. Pada bidang
hukum, pemerintah Belanda memperkenalan hukum Romawi-Belanda. Tetapi Belanda
tidak serta-merta menghiangkan hukum adat kecuali jika bertentangan dengan
yurisprudensi Belanda. Pada bidang agama, Belanda yang merupakan penganut
Kristen Protestan turut menyebarkan ajarannya kepada penduduk pribumi. Belanda
juga mengaganti imam-imam Kristen Katolik dengan imam Kristen Protestan. Secara
garis besar Belanda ingin menggantikan ajaran Katolik dengan Protestan. Bahkan
mereka secara terbuka mendukung kebangkitan agama Budha sebagai tindaan untuk
menyingkirkan ajaran Katolik.
C.
Inggris
Kontak antara Inggris dengan Sri Lanka terjadi
jauh sebelum kedatangan Belanda, yakni pada tahun 1592 terdapat salah seorang
tentara Inggris yang menyerang Portugis dari pelabuhan Galle. Bangsa Inggris
pada waktu itu masih belum melihat Sri Lana sebagai sesuatu yang potensial.
Sampai pada pertengahan abad ketujuh belas, seorang pelaut yang bernama Robert Knox
tiba pelabuhan Trincomalee untuk perbaikan kapal. Namun ia ditahan oleh
kerajaan Kandy antara tahun 1660 dan 1680. Setelah keluar dari sana, ia menulis
pengalamannya dalam buku yang berjudul “An Historical Relation of the Island of
Ceylon.” Dari buku tersebutlah Inggris mengetahui tentang Sri Lanka.
Kerajaan Kandy yang pada waktu itu sedang dalam
kolonisasi Belanda mencoba meminta bantuan kepada Inggris. Mereka melakukan
pendekatan kepada Inggris pada tahun 1762, 1782, dan 1795. Pada tahun 1762 dan
1782 negosiasi mengalami kegagalan karena tidak mencapai kesepakatan. Pada tahun
1795 negosiasi dapat dikatakan berhasil dengan pihak Kandy menyetujui syarat
dari Inggris yakni memberikan kendali atas pesisir dan monopoli perdagangan
kayu manis. Dengan mudah Inggris mengusir Belanda pada tahun 1796. Belanda
secara resmi menyerahan Sri Lanka pada tahun 1801 dalam Persetujuan Amiens dan Sri
Lanka dinobatkan sebagai koloni mahkota bagi Inggris. Persitiwa ini juga
sebagai pertanda bagi Inggris untuk secara resmi menggantikan posisi Belanda
sebagai penjajah.
Pada saat Inggris mengatur administrasi Sri
Lanka menggantikan Belanda, mereka menyadari bahwasannya keberadaan Kandy yang
masih merdeka menimbulkan banyak masalah. Inggris harus selalu mengerahkan
banyak penjaga diperbatasan yang memaan banyak biaya, perdagangan menuju
dataran tinggi harus terhambat karena pos-pos perbatasan, dan komunikasi antara
barat dan timur mengalami keterlambatan. Inggris menginginkan penyatuan
politik, namun pendudu pribumi masih menaruh curiga terhadap Inggris. Akhirnya
pada tahun 1803 Inggris mencoba merebut kerajaan, namun usaha tersebut harus
gagal karena kerajaan masih memiliki dukungan yang kuat dari para bangsawan.[6]
Pada tahun 1815 terdapat suatu insiden
pemberontakan penduduk Kandy disebabkan Raja Kandy memusuhi salah satu kepala
suku Sinhala setempat dan mengasingkan rakyat Sinhala. Peristiwa ini segera
dimanfaatkan oleh Inggris dengan mengerahan pasukannya ke Kandy. Dengan mudah
Inggris menaklukan pusat Kerajaan Kandy dan memaksa mereka menandatangani
perjanjian yang dikenal dengan nama Konvensi
Kandyan pada bulan Maret 1815. Isi dari perjajian tersebut menyatakan bahwa
Kandy berada dibawah kedaulatan Inggris, adapun semua hak istimewa kepala suku
tetap dipertahankan. Tetapi Inggris tetap mencoba menerapan sistemnya secara hati-hati.
Reformasi yang dibawa Inggris mengalami banyak
pertentangan dari masyarakat setempat. Pada tahun 1833 mulai diterapkannya
reformasi secara sistematis bagi Ceylon. Nama Ceylon sendiri diberikan oleh
Inggris untuk menyebut Sri Lanka. Bahasa Inggris ditetapan sebagai bahasa resmi
dalam pemerintahan. Inggris juga menanamkan paham kebebasan individu dan
demorasi pada setiap orang. Pada sektor ekonomi, Inggris dengan gencar
mengenalkan tanaman yang lau dipasar dunia, seperti kopi, teh, karet, kelapa, dll.
Inggris juga meningkatkan luas lahan dan menambah jumlah pekerja demi
meningkatkan hasil. Reformasi-reformasi yang dilakukan Inggris menciptakan
golongan kelas menengah yang secara perlaan menumbuhkan semangat nasionalisme.
Pada awal abad ke-20 kesadaran nasionalisme
secara perlahan menyebar ke arena politik. Organisasi yang bersifat regional
banyak terbentuk yang terdiri atas orang-orang yang berpendidikan formal.
Masyarakat meminta partisipasi dari Ceylon untuk ikut dalam konstitusi dengan meminta
ppartisipasi di eksekutif dan perwakilan
regional di legislatif. Pada tahun 1910 tuntutan dari rakyat Ceylon mendapat
tanggapan dari pemerintah Inggris dengan mempersilahkan Ceylon untuk memilih
satu anggotanya kepada dewan legislatif. Sedangkan kursi yang tersisa diberikan
bangsawan lokal untu mempertaankan prakti lama.
Pada saat Perang Dunia I yang terjadi pada
tahun 1914 memiliki pengaruh penting pada pertumbuhan nasionalisme. Adanya
propaganda dari pihak sekutu mengenai kemerdekaan dan penentuan nasib negeri
sendiri membuat penduduk Ceylon mengetahui pentingnya nasionalisme dan
kemerdekaan bangsanya. Selain peristiwa Perang Dunia I, terdapat peristiwa
lainnya yang menjadi pematik untuk pertumbuhan nasionalime. Peristiwa tersebut
terjadi pada tahun 1915, ketika komunitas Muslim Indian Moor yang merupakan
kaum minoritas bentrok dengan umat Budha Sinhala tentang salah satu ritual Budha
yang menggagu umat muslim. Inggris menanggapi hal tersebut sebagai salah satu
bagian dari konspirasi anti-pemerintah dan menangkap orang-orang Sinhala tanpa
ampun. Akibat dari sikap Inggris yang sewenang-wenang membankitkan rasa
nasionalisme rakyat Ceylon lebih kuat lagi. Pada tahun 1919 seluruh komunitas
masyarakat Sinhala dan Tamil berkumpul dan membentuk Kongres Nasional Ceylon. Kongres ini menuntut adanya konstitusi
baru yang lebih baik. Namun tuntuan tersebut ditolak digantikan dengan
diperluasnya perwakilan Ceylon di legislatif pada tahun 1924. Pada tahun 1927
dibentuk suatu panitia yang bertujuan untuk mempersiapkan kemerdekaan bagi
Ceylon yang dipimpin oleh Donoughmore. Komisi Donoughmore mengasilan sebuah
konstitusi jika Ceylon ingin merdeka dan telah diresmikan oleh Inggris pada
tahun 1931. Pada mulanya tidak ada keluhan yang keluar dari etnis Tamil dan
Ceylon. Tetapi masalah muncul kala sektor-sektor penting seperti pertahanan,
urusan luar negeri, keuangan, dan peradilan masih dikendalian oleh Inggris.
Pada Perang Dunia II, Ceylon memiliki peran
penting sebagai pangkalan militer bagi pasukan Inggris dan Amerika untuk
menghadapi Jepang di Asia Tenggara. Ketika perang akan berakhir bangsa Inggris
memenuhi janjinya untuk memeberikan kemerdekaan kepada Ceylon dengan membentuk
komisi Soulbury pada tahun 1944. Komisi ini menghasilkan konstitusi Soulbury
yang isinya memberikan kedaulatan kepada pemerintah Ceylon tetapi Inggris masih
memegang urusan yang beraitan pertahanan. Pada tahun 1947 Inggris secara resmi menyerahkan
kedaulatan kepada Ceylon. Tidak lama setelah itu Ceylon melaksanakan pemilu dan
dimenangkan oleh UNP (United National Partai). Pada tanggal 4 Februari 1948
Ceylon dinyatakan sebagai negara merdeka dengan perdana metri pertama dijabat
oleh DS Senanayake.
Daftar
Pustaka
Anonim. 2011. Semua Ceylon menjadi Sri Lanka. Diaksess pada 19 Oktober
2021. https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/01/110101_srilanka_ceylon.
Peiris, G. Hubert and Arasaratnam, .
Sinnappah. "Sri Lanka." Encyclopedia Britannica, October 17, 2021. https://www.britannica.com/place/Sri-Lanka.
Ross, Russell R, and Andrea Matles Savada. 1988. Sri Lanka: A Country Study.
Federal Research Division Library of Congress.
Sri Lanka. Kedutaan Besar Republik Indonesia Di Colombo, Sri Lanka
Merangkap Republik Maladewa. Diakses pada 18 Oktober 2021, 13:28. https://kemlu.go.id/colombo/id/read/sri-lanka/1913/etc-menu.
[1] Sri Lanka. Kedutaan Besar Republik
Indonesia Di Colombo, Sri Lanka Merangkap Republik Maladewa. Diakses pada 18
Oktober 2021, 13:28. https://kemlu.go.id/colombo/id/read/sri-lanka/1913/etc-menu.
[2] Anonim. 2011. Semua Ceylon menjadi
Sri Lanka. Diaksess pada 19 Oktober 2021. https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/01/110101_srilanka_ceylon.
[3] Arasaratnam,
Sinnappah and Peiris, Gerald Hubert. "Sri Lanka". Encyclopedia
Britannica, 17 Oct. 2021, https://www.britannica.com/place/Sri-Lanka. Accessed 19
October 2021.
[4] Ross, Russell R, and Andrea
Matles Savada. 1988. Sri Lanka: A Country Study. Federal
Research Division Library of Congress. Hlm 20.
[5] Ibid. hlm 22.
[6] Arasaratnam. Op. cit.
Comments
Post a Comment