Dinamika UMKM dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

 

Pendahuluan

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada bulan desember 2019 dunia digemparkan dengan munculnya penyakit misterius yang menyerang sistem pernafasan.  Setelah beberapa penyelidikan dilakukan oleh para ilmuan, mereka menemukan bahwa secara etiologi penyakit ini termasuk kedalam jenis coronavirus baru. Berdasarkan hal itu para ilmuan memberikan nama 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) yang bersifat sementara, sebelum akhirnya WHO pada tanggal 11 Februari 2020 secara resmi memberikan nama kepada penyakit tersebut, yakni Coronavirus Disease (COVID-19).

Kasus COVID-19 pertama kali terjadi di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina tepatnya di pasar hewan dan makanan laut yang terletak di kota Wuhan. Virus tersebut dilaporkan menginfeksi para pedagang yang ada di sana yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Meski telah diketahui lokasi kasus pertama COVID-19, namun para ilmuan sampai saat ini masih dalam perdebatan dan belum mengentahui dengan pasti asal muasal dari virus corona, apakah itu dari alam ataukah buatan manusia.

Ada beberapa teori yang diajukan para pakar yang menjelaskan mengenai asal muasal dari virus corona. Teori pertama yang menjelaskan mengenai asal mula virus corona yang berasal dari kelelawar. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan SARS-Cov-2 diyakini sebagai limpahan dari coronavirus hewan (berasal dari hewan terutama kelelawar) yang kemudian bermutasi sehingga bisa menginfeksi manusia dan dengan mudah menular antar manusia. Hal ini juga diperkuat dengan kondisi pasar yang ada di Wuan yang menjual segala jenis binatang seperti kelelawar, ular, dan unggas.

Teori kedua yang menyatakan bahwa virus corona berasal dari makanan beku impor yang dijual di pasar. Teori ini juga mengisyaratkan bahwasannya bukan hanya Cina saja yang menjadi sumber malapetaka. Teori ketiga menjelaskan mengenai virus corona yang berasal dari kebocoran laboratorium Institut Virologi yang ada di Wuhan.[1] Namun teori ini menimbulkan banyak pertentangan dari para ilmuan terutama dari Cina, mereka menyatakan bahwasannya teori ini hanya cara Amerika Serikat mendiskreditkan Cina. Tidak adanya bukti pasti membuat asal usul virus corona masi menjadi perdebatan oleh para ilmuan hingga sekarang.

Pada awal tahun 2020 terjadi peningkatan secara signifikan terhadap kasus COVID-19 yang menjangkiti tidak hanya di provinsi Hubei namun telah menyebar hingga ke provinsi lainnya di Cina. Pada tanggal 30 Januari 2020 telah dikonfirmasi adanya 7.736 kasus covid di Cina dan terdapat pula 86 kasus covid yang dilaporkan berasal dari negara lainnya seperti Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Nepal, Sri Lanka, Kamboja, Jepang, Singapura, Arab Saudi, Korea Selatan, Filipina, India, Australia, Kanada, Finlandia, Prancis, dan Jerman yang kemudian secara bertahap menyebar ke seluruh dunia, khususnya Indonesia.[2] Hingga saat ini jumlah kasus yang diakibatkan oleh virus corona di seluruh dunia mencapai 275 juta kasus dengan korban meninggal mecapai angka 5,35 juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwasannya tidak hanya penyebarannya virus yang cepat namun juga prosentase kematian yang diakibatkan COVID-19 juga cukup tinggi.

 

 

Pandemi COVID-19 Masuk Indonesia

Sekiranya sudah sekitar satu setengah tahun sejak pandemi COVID-19 menyerang Indonesia. COVID-19 pertama kali muncul di Indonesia ada tanggal 2 Maret 2020, setelah diumumkannya dua orang yang positif secara resmi oleh pemerintah. Kedua orang tersebut ialah seorang ibu yang berumur 64 (MD) dengan putrinya yang berumur 31 (NT) yang berasal dari kota Depok Jawa Barat. Ibu dan anak tersebut dinyatakan positif setelah melakukan kontak dengan salah satu warga Jepang yang positif COVID-19.

Pada mulanya NT pergi ke pesta dansa yang diikuti oleh peserta dari luar negeri termasuk si warga Jepang. Sekemebalinya ke rumah selang dua hari NT mengaku mengalami batuk, sesak nafas, dan demam yang pada akhirnya dirujuk ke Ruma Sakit Mitra Depok. Setelah diperiksa NT ditetapkan sebagai suspek virus corona dari Wuhan. Tidak lama berselang sang ibu (MD) menunjukan gejala serupa dengan COVID-19 setelah berkontak dengan anaknya (NT). Setelah dirujuk di RS Mitra Depok, rumah sakit yang sama dengan anaknya, ia dinyatakan positif COVID-19. Pada akhirnya kabar mengenai kasus mengenai COVID-19 yang telah masuk Indonesia disampaikan secara resmi oleh presiden Jokowi Widodo pada 2 Maret 2020.[3]

Mengenai masalah masuknya COVID-19 di Indonesia, ada seorang pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono yang merasa ada sedikit kekeliruan bila dikatakan masuknya virus corona pada awal Maret 2020. Menurutnya apa yang terjadi pada bulan Maret 2020 sudah merupakan transmisi lokal dan tidak lagi penularan dari luar negeri. Menurutnya juga, virus corona kemungkinan telah masuk di Indonesia sejak awal Januari. Pasalnya setelah diumumkan oleh WHO bahwa virus corona dapat menginfeksi antar manusia, penerbangan dari dan menuju Wuhan tidak langsung dihentikan oleh pemerintah Indonesia. Ada sekitar enam bandara yang masih membuka rute tersebut yang berada di wilayah Batam, Jakarta, Denpasar, Menado, dan Makasar. Pemerintah Indonesia masih merasa baik-baik saja dan hanya melakukan langkah pencegahan yang standar, seperti pengguaan Healt Alret Card dan Yellow Card, serta penggunaan pemindai suhu di pintu masuk dan keluar bandara. Namun langkah pemerintah yang dapat dikatakan sedikit “meremehkan” ini membuat penyebaran virus corona semakin cepat hingga keseluruh daerah di Indonesia.[4] Hingga saat ini COVID-19 telah memakan korban jiwa yang berjumlah sekitar 144 ribu di seluruh Indonesia.

Dampak Ekonomi Indonesia Akibat COVID-19

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada jatuhnya korban jiwa, tetapi juga mengakibatkan terganggunya perekonomian pada negara-negara terdampak. Ancaman akan terjadinya resesi bahkan depresi sudah menanti di depan mata. Menurut perkiraan yang dilakukan oleh IMF (International Monetary Fund), dampak yang ditimbulkan akibat COVID-19 bisa mencapai 12 triliun dollar AS ditambah lagi 95% dari negara-negara terdampak tersebut diperkirakan akan mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi di zona negatif.[5]

Bahkan IMF memperkirakan penurunan yang cukup signifikan pada ekonomi Indonesia akibat pandemi COVID-19. Indonesia diprediksi mengalami kontraksi (tumbuh negatif) sebesar 0,3. Namun apa yang telah diprediksikan mengenai Indonesia oleh IMF terbukti meleset. Berdasarkan dari apa yang disampaikan oleh Mentri Keuangan, Sri Mulyani, dampak yang diterima akibat pandemi COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia dinilai masih relatif lebih moderat jika dibandingkan dengan negara-negara G20 dan ASEAN yang juga ikut terdampak. Beberapa negara seperti Thailand dan Malaysia yang telah pulih pada kuartal II (2021), mengalami pertumbuhan negatif pada kuartal III (2021) akibat dari virus corona varian Delta. Menurut Sri Mulyani pada 2020 Indonesia mengalami pertumbuhan -2,07 persen, tetapi telah recover sebesar 7,70 persen pada kuartal II dan 3,51 persen pada kuartal III.[6]

Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak lain pada perekonomian Indonesia. Menurut Dr. R. Stevanus C. Handoko anggota DRPD DIY terdapat lima dampak besar yang diakibatkan COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia. Dampak yang pertama yaitu adanya penurunan dalam daya beli masyarakat. Pemberlakuan PPKM yang tak kunjung usai menghambat masyarakat dalam beraktifitas ekonomi sehingga menurunkan daya beli masyarakat hingga 60 persen. Dampak kedua ialah menurunnya nilai investasi di sektor ekonomi. Dengan menurunnya daya beli masyarakat membuat para investor ragu untuk menanamkan modal mereka. Dampak ketiga ialah melemahnya ekonomi baik nasional maupun daerah. Pelemahan disini dimaksudkan pada penurunan penerimaan pajak yang mengakibatkan berkurangnya anggaran belanja pemerintah. Dampak keempat ialah adanya perubahan pola bisnis. Pandemi COVID-19 secara tidak langsung merubah pola bisnis, misalnya sebelumnya terdapat interaksi secara langsung antara pembeli dan penjual kini hal tersebut tidak lagi terjadi karena digantikan oleh interaksi melalui smartphone. Dampak kelima ialah adanya peningkatan dalam pemanfaatan teknologi informasi. Berubahnya pola bisnis memaksa para pelaku bisnis terutama UMKM untuk menguasai teknologi informasi agar usahanya dapat bertahan ditengah pandemi.[7]

 

 

Kondisi UMKM Kala Pandemi

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memulihkan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah dengan penyelamatan UMKM dari dampak COVID-19. Penyelamatan inienting dilakukan karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Sekitar 57,24 persen dari seluruh PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia berasal dari UMKM. Menurut Wimboh Santoso, ketua dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 99,92 persen atau kurang lebih sekitar 64 juta pelaku usaha berasal dari UMKM yang mayoritasnya merupakan usaha mikro dan usaha kecil.[8]

Berdasarkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) sebanyak 82,9 persen UMKM mengalami pertumbuhan negatif dan hanya sekitar 5,9 persen saja yang mengalami pertumbuhan positif. Hasil serupa juga dipaparkan oleh beberapa lembaga seperti BPS (Badan Pusat Statistik), Bappenas (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah), dan World Bank. Hasil tersebut menunjukan bahwasannya banyak pelaku UMKM kesulitan dalam melunasi pinjaman, membayar tagihan listrik, gas, air, bahkan gaji karyawan. Kendala lainnya ada pada sulitnya memperoleh bahan baku yang membuat produksi terhambat, kalaupun ada harganya pasti meningkat. Belum lagi masalah pemodalan, pelanggan yang menurun, serta distriusi yang tidak lancar akibat PPKM. Berbagai kendala tersebut akhirnya berimbas pada pemutusan hubungan kerja para pekerja baik sementara maupun permanen, bahkan beberapa UMKM sampai gulung tikar karena tidak sanggup bertahan kala pandemi.

Melihat hal ini pemerintah melakukan berbagai upaya yang salah satunya ialah dengan memberikan stimulus melalui sejumlah kebijakan, seperti restrukturisasi pinjaman, tambahhan bantuan modal, keringanan pembayaran tagihan listrik, dan dukungan pembiayaan lainnya. Bagi usaha pemula diberikan dana hibah dan penambahan dana LPDB (Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir). Untuk memudahkan pembiayaan dan pendanaan bagi UMKM, pemerintah memberikan subsidi bunga, keringanan pembayaran pinjaman, serta mempermudah persyaratan kredit.

Pemerintah juga telah menyediakan dukungannya bagi para pelaku UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2020 pemerintah telah menggelontokan dana sebesar 112,84 triliun yang telah dinikmati oleh 30 juta UMKM di seluruh Indonesia sebagai bentuk realisasi kebiakan PEN. Sedangkan pada tahun 2021, pemerintah telah menyediakan dana PEN sebesar 121,90 triliun guna melanjutkan pemulihan ekonomi. Susiwijono Moegiarso, sekertaris Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, berharap dengan adanya kebijakan PEN ini mendorong para pelaku UMKM untuk kembali pulih di masa pandemi.[9]

Pada akhir 2020 pemerintah mendorong para pelaku UMKM untuk merubah pola bisnisnya menuju ke arah digital (go digital).  Sebanyak 11,7 juta UMKM telah mengikuti program pemerintah yaitu Gernas BBI (Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia) dengan tujuan untuk go digital. Pemerintah merencanakan pada 2030 mendatang tercapai 30 juta UMKM yang go digital. Selain merubah pola bisnis, pemerintah juga mendorong perluasan pasar UMKM. Tidak hanya pasar domestik namun hingga pasar internasional. Namun hal tersebut diperlukan kerja sama dari para kemetrian/lembaga, pemerintah daerah, institusi perbankan, fintech, marketplace, serta seluruh pelaku UMKM. Sebagai contoh perusahaan platform digital Gojek baru-baru ini bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah dengan tujuan untuk membantu para pelaku UMKM agar dapat naik kelas melalui programnya yakni #MelajuBersamaGojek. Dengan adanya program ini diharapkan dapat membantu para pelaku UMKM untuk menerapkan digitalisasi pada bisnisnya, seperti pemasaran, pemesanan, pembayaran, pengiriman, hingga admministrasi.[10] Sehingga dapat memperlancar pemulihan ekonomi nasional. Selain itu, pemerintah mengadakan kegiatan ASEAN Online Sale Day (AOSD) pada 2020 untuk memperluas jangkauan ekspor produk Indonesia.

Kisah Pelaku UMKM Kala Pandemi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwasannya UMKM ialah sektor yang paling terdampak akibat pandemi COVID-19. Banyak bisnis mereka yang mengalami kerugian bahkan ada yang sampai gulung tikar karena tidak sanggup mempertahankan bisnisnya. Namun disamping itu semua ada beberapa pelaku UMKM yang mampu beradaptasi dan bangkit kembali.

Seperti kisah dari Evi Ekasari, pemilik usaha tempe kecil-kecilan yang berlokasi di daerah Sunter Jaya, Jakarta Utara. Pada saat pandemi penjualan tempenya menurun hingga 30 persen karena sebagian besar pelanggannya masih libur. Meskipun begitu Evi tidak menyerah begitu saja, bantuan datang padanya berupa keringanan pembayaran kredit. Peerintah melalui BRI memberikan keringanan kredit kepada nasabah, khususnya Evi. Dengan keringanan tersebut sangat bermafaat bagi perkembangan usahanya di tengah pandemi.[11]

Kisah lainnya datang dari Siti Nurika, pemilik usaha bawang goreng di kota Tanjungpinang. Usaha ini telah berdiri sejak tahun 2004. Seperti halnya UMKM ang terletak di dekat perbatasan, Siti menargetkan pasar internasional seperti Malaysia dan Singapura sebagai sasaran penjualannya. Namun ketika pandemi COVID-19 berlangsung, bisnis bawang gorengnya mengalami kesulitan hingga hampir mati. Penjualan ke Malaysia dan Singapura yang biasanya ia lakukan kini tidak bisa lagi karena ditutupnya perbatasan antar negara. karena pasar internasional tidak bisa, Siti kemudian melirik pasar dalam negeri dan menargetkan warung-warung kecil dengan kemasan yang ekonomis. Hal itu dilakukan karena menurutnya masyarakat tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli dalam jumlah besar, mereka hanya mampu membeli sedikit. Dengan strategi ini bisnis milik Siti dapat bertahan dikala pandemi bahkan bisa meraup omset hingga 40-45 juta per bulan. Bisnis milik Siti semakin berkembang dengan adanya program dari Pusat pelatihan dan jaringan bisnis Al Ahmadi Enterpreneurship Center yang mengupayakan untuk mengadakan ekspor kembali produk-produk UMKM di Provinsi Riau, khususnya untuk produk milik Siti.[12]

Kesimpulan

COVID-19 yang muncul secara tiba-tiba dengan penyebaran yang begitu cepat  dan mematikan mengakibatkan banyaknya korban jiwa diberbagai negara. Selain itu pandemi covid juga mengakibatkan terganggunya perekonomian dunia, khususnya Indonesia yang juga terdampak COVID-19. Perekonomian Indonesia yang sebelumnya berada pada angka positif, pada saat pandemi mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif). Namun dampak perekonomian yang dialami Indonesia masih relatif moderat dibandingkan negara-negara tetangga.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memulihkan perekonomian Indonesia salah satunya ialah dengan memulihkan sektor UMKM. Hal ini dikarenakan UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Pemulihan UMKM dilakukan dengan memberikan keringanan kredit maupun memberikan subsidi dan stimulus kepada para pelaku UMKM.

Sebagai salah satu sektor yang paling merasakan dampak dari pandemi, mayoritas UMKM yang mengalami kerugian dan pertumbuhhan ke arah negatif. Karena hal tersebut banyak UMKM yang merumahkan pegawainya, bahkan ada UMKM yang gulung tikar akibat dari pandemi. Namun ada beberapa UMKM yang berhasil bertahan kala pandemi, seperti bisnis yang dijalankan oleh Evi Ekasari dan Siti Nurika.

Daftar Pustaka

Anonim. Penguatan UMKM sebagai Penggerak Pemulihan Ekonomi Nasional. https://www.investindonesia.go.id/id/mengapa-berinvestasi/perkembangan-ekonomi-indonesia/penguatan-umkm-sebagai-penggerak-pemulihan-ekonomi-nasional-id. Diakses pada  9 Januari 2022, 08:54.

 

Ariyanto. 2020. Asal Mula dan Penyebaran Virus Corona dari Wuhan ke Seluruh Dunia. BAPPEDA Provinsi NTB. https://bappeda.ntbprov.go.id/asal-mula-dan-penyebaran-virus-corona-dari-wuhan-ke-seluruh-dunia/. Diakses pada 22 Desember 2021, 09:07.

 

Beritayogya. 2021. Dr. Stevanus :”5 Dampak Besar Pandemik di Sektor Ekonomi.” https://www.beritayogya.com/dr-stevanus-5-dampak-besar-pandemik-di-sektor-ekonomi/. Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.

 

CNBC. 2020.  Kisah Pedagang Tempe Lalui Badai Virus Corona. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20200504111755-25-156010/kisah-pedagang-tempe-lalui-badai-virus-corona.  Diakses pada 9 Januari 2022, 20:57.

 

Fadli, Rizal. 2021. Begini Kronologi Lengkap Virus Corona Masuk Indonesia. https://www.halodoc.com/artikel/kronologi-lengkap-virus-corona-masuk-indonesia. Diakses pada 22 Desember 2021.

 

Genecraft Labs. 2020. Sejarah Coronavirus : Seluk Beluk si Penyebab Wabah COVID-19. https://genecraftlabs.com/id/sejarah-coronavirus-penyebab-wabah-covid-19/. Diakses pada 22 Desember 2021, 09:07.

 

Junaedi, Dedi dan Faisal Salista. 2020. Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Terdampak. Simposium Nasional Keuangan Negara. Hlm 996-1115.

 

Lismanseto, Haryo. 2021. Dukungan Pemerintah Bagi UMKM Agar Pulih di Masa Pandemi. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/2939/dukungan-pemerintah-bagi-umkm-agar-pulih-di-masa-pandemi. Diakses pada 8 Januari 2022, 21:20.

 

Nurhadi, M. 2021. Kisah Pelaku Usaha Bawang Goreng Kian Sukses Kala Pandemi: Jangan Mengeluh, Cari Solusi!. https://www.suara.com/bisnis/2021/09/02/113627/kisah-pelaku-usaha-bawang-goreng-kian-sukses-kala-pandemi-jangan-mengeluh-cari-solusi?page=1. Diakses pada 10 Januari 2022, 08:17.

 

Nurwigati, Holy Kartika. 2021. 4 Skenario Asal Mula Virus Corona di Wuhan Menurut WHO.  https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/11/070300223/4-skenario-asal-mula-virus-corona-di-wuhan-menurut-who?page=all. Diakses pada 21 Desember 2021, 04:34.

 

Saputra, Dany. 2021. Dampak Pandemi ke Ekonomi Indonesia Lebih Moderat Dibanding Negara Lain. https://m.bisnis.com/amp/read/20211215/9/1477855/dampak-pandemi-ke-ekonomi-indonesia-lebih-moderat-dibanding-negara-lain. Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.

 

Susilo, Adityo, dkk. 2020. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 7 (1). Hlm 45-67.

 

Pranita, Ellyvon. 2020. Diumumkan  Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk Indonesia dari Januari. https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli--virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari?page=all#page2. Diakses pada 5 Januari 2022, 13:09.

 

Pratama, Wibi Pengestu. 2021. Kenapa UMKM Harus Diselamatkan dari Dampak Pandemi Covid-19? Ini Penjelasan OJK. https://m.bisnis.com/amp/read/20210918/9/1444025/kenapa-umkm-harus-diselamatkan-dari-dampak-pandemi-covid-19-ini-penjelasan-ojk. Diakses pada 8 Januari 2022, 16:02.



[1] Nurwigati, Holy Kartika. 2021. 4 Skenario Asal Mula Virus Corona di Wuhan Menurut WHO.  https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/11/070300223/4-skenario-asal-mula-virus-corona-di-wuhan-menurut-who?page=all. Diakses pada 21 Desember 2021, 04:34.

 

[2] Susilo, Adityo, dkk. 2020. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 7 (1). Hlm 46.

[3]Fadli, Rizal. 2021. Begini Kronologi Lengkap Virus Corona Masuk Indonesia. https://www.halodoc.com/artikel/kronologi-lengkap-virus-corona-masuk-indonesia. Diakses pada 22 Desember 2021.

 

[4]  Pranita, Ellyvon. 2020. Diumumkan  Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk Indonesia dari Januari. https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli--virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari?page=all#page2. Diakses pada 5 Januari 2022, 13:09.

 

[5] Junaedi, Dedi dan Faisal Salista. 2020. Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Terdampak. Simposium Nasional Keuangan Negara. Hlm 996-1115.

[6]  Saputra, Dany. 2021. Dampak Pandemi ke Ekonomi Indonesia Lebih Moderat Dibanding Negara Lain. https://m.bisnis.com/amp/read/20211215/9/1477855/dampak-pandemi-ke-ekonomi-indonesia-lebih-moderat-dibanding-negara-lain. Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.

 

[7] Beritayogya. 2021. Dr. Stevanus :”5 Dampak Besar Pandemik di Sektor Ekonomi.” https://www.beritayogya.com/dr-stevanus-5-dampak-besar-pandemik-di-sektor-ekonomi/. Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.

 

[8] Pratama, Wibi Pengestu. 2021. Kenapa UMKM Harus Diselamatkan dari Dampak Pandemi Covid-19? Ini Penjelasan OJK. https://m.bisnis.com/amp/read/20210918/9/1444025/kenapa-umkm-harus-diselamatkan-dari-dampak-pandemi-covid-19-ini-penjelasan-ojk. Diakses pada 8 Januari 2022, 16:02.

[9] Lismanseto, Haryo. 2021. Dukungan Pemerintah Bagi UMKM Agar Pulih di Masa Pandemi. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/2939/dukungan-pemerintah-bagi-umkm-agar-pulih-di-masa-pandemi. Diakses pada 8 Januari 2022, 21:20.

 

[10]Anonim. Penguatan UMKM sebagai Penggerak Pemulihan Ekonomi Nasional. https://www.investindonesia.go.id/id/mengapa-berinvestasi/perkembangan-ekonomi-indonesia/penguatan-umkm-sebagai-penggerak-pemulihan-ekonomi-nasional-id. Diakses pada 9 Januari 2022, 08:54.

 

[11] CNBC. 2020.  Kisah Pedagang Tempe Lalui Badai Virus Corona. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20200504111755-25-156010/kisah-pedagang-tempe-lalui-badai-virus-corona.  Diakses pada 9 Januari 2022, 20:57.

[12]  Nurhadi, M. 2021. Kisah Pelaku Usaha Bawang Goreng Kian Sukses Kala Pandemi: Jangan Mengeluh, Cari Solusi!. https://www.suara.com/bisnis/2021/09/02/113627/kisah-pelaku-usaha-bawang-goreng-kian-sukses-kala-pandemi-jangan-mengeluh-cari-solusi?page=1. Diakses pada 10 Januari 2022, 08:17.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Sejarah: Apanage dan Bekel (Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta (1830-1920))

Artikel: Sensus Penduduk Indonesia Pasca-Proklamasi

Kosakata [言葉] Bahasa Jepang [Part 2]