Dinamika UMKM dalam Menghadapi Pandemi COVID-19
Pendahuluan
Dua tahun yang lalu, tepatnya pada bulan
desember 2019 dunia digemparkan dengan munculnya penyakit misterius yang
menyerang sistem pernafasan. Setelah beberapa
penyelidikan dilakukan oleh para ilmuan, mereka menemukan bahwa secara etiologi
penyakit ini termasuk kedalam jenis coronavirus baru. Berdasarkan hal itu para
ilmuan memberikan nama 2019 novel
coronavirus (2019-nCoV) yang bersifat sementara, sebelum akhirnya WHO pada
tanggal 11 Februari 2020 secara resmi memberikan nama kepada penyakit tersebut,
yakni Coronavirus Disease (COVID-19).
Kasus COVID-19 pertama kali terjadi di Wuhan,
Provinsi Hubei, Cina tepatnya di pasar hewan dan makanan laut yang terletak di
kota Wuhan. Virus tersebut dilaporkan menginfeksi para pedagang yang ada di
sana yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Meski telah
diketahui lokasi kasus pertama COVID-19, namun para ilmuan sampai saat ini
masih dalam perdebatan dan belum mengentahui dengan pasti asal muasal dari
virus corona, apakah itu dari alam ataukah buatan manusia.
Ada beberapa teori yang diajukan para pakar
yang menjelaskan mengenai asal muasal dari virus corona. Teori pertama yang
menjelaskan mengenai asal mula virus corona yang berasal dari kelelawar. Berdasarkan
analisis yang telah dilakukan SARS-Cov-2 diyakini sebagai limpahan dari
coronavirus hewan (berasal dari hewan terutama kelelawar) yang kemudian
bermutasi sehingga bisa menginfeksi manusia dan dengan mudah menular antar
manusia. Hal ini juga diperkuat dengan kondisi pasar yang ada di Wuan yang
menjual segala jenis binatang seperti kelelawar, ular, dan unggas.
Teori kedua yang menyatakan bahwa virus corona
berasal dari makanan beku impor yang dijual di pasar. Teori ini juga
mengisyaratkan bahwasannya bukan hanya Cina saja yang menjadi sumber
malapetaka. Teori ketiga menjelaskan mengenai virus corona yang berasal dari
kebocoran laboratorium Institut Virologi yang ada di Wuhan.[1]
Namun teori ini menimbulkan banyak pertentangan dari para ilmuan terutama dari
Cina, mereka menyatakan bahwasannya teori ini hanya cara Amerika Serikat
mendiskreditkan Cina. Tidak adanya bukti pasti membuat asal usul virus corona
masi menjadi perdebatan oleh para ilmuan hingga sekarang.
Pada awal tahun 2020 terjadi peningkatan secara
signifikan terhadap kasus COVID-19 yang menjangkiti tidak hanya di provinsi
Hubei namun telah menyebar hingga ke provinsi lainnya di Cina. Pada tanggal 30
Januari 2020 telah dikonfirmasi adanya 7.736 kasus covid di Cina dan terdapat
pula 86 kasus covid yang dilaporkan berasal dari negara lainnya seperti Taiwan,
Thailand, Vietnam, Malaysia, Nepal, Sri Lanka, Kamboja, Jepang, Singapura, Arab
Saudi, Korea Selatan, Filipina, India, Australia, Kanada, Finlandia, Prancis,
dan Jerman yang kemudian secara bertahap menyebar ke seluruh dunia, khususnya
Indonesia.[2]
Hingga saat ini jumlah kasus yang diakibatkan oleh virus corona di seluruh
dunia mencapai 275 juta kasus dengan korban meninggal mecapai angka 5,35 juta
jiwa. Hal ini menunjukan bahwasannya tidak hanya penyebarannya virus yang cepat
namun juga prosentase kematian yang diakibatkan COVID-19 juga cukup tinggi.
Pandemi COVID-19 Masuk
Indonesia
Sekiranya sudah sekitar satu setengah tahun
sejak pandemi COVID-19 menyerang Indonesia. COVID-19 pertama kali muncul di
Indonesia ada tanggal 2 Maret 2020, setelah diumumkannya dua orang yang positif
secara resmi oleh pemerintah. Kedua orang tersebut ialah seorang ibu yang
berumur 64 (MD) dengan putrinya yang berumur 31 (NT) yang berasal dari kota Depok
Jawa Barat. Ibu dan anak tersebut dinyatakan positif setelah melakukan kontak
dengan salah satu warga Jepang yang positif COVID-19.
Pada mulanya NT pergi ke pesta dansa yang
diikuti oleh peserta dari luar negeri termasuk si warga Jepang. Sekemebalinya
ke rumah selang dua hari NT mengaku mengalami batuk, sesak nafas, dan demam
yang pada akhirnya dirujuk ke Ruma Sakit Mitra Depok. Setelah diperiksa NT
ditetapkan sebagai suspek virus corona dari Wuhan. Tidak lama berselang sang
ibu (MD) menunjukan gejala serupa dengan COVID-19 setelah berkontak dengan
anaknya (NT). Setelah dirujuk di RS Mitra Depok, rumah sakit yang sama dengan
anaknya, ia dinyatakan positif COVID-19. Pada akhirnya kabar mengenai kasus
mengenai COVID-19 yang telah masuk Indonesia disampaikan secara resmi oleh
presiden Jokowi Widodo pada 2 Maret 2020.[3]
Mengenai masalah masuknya COVID-19 di Indonesia,
ada seorang pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono yang
merasa ada sedikit kekeliruan bila dikatakan masuknya virus corona pada awal
Maret 2020. Menurutnya apa yang terjadi pada bulan Maret 2020 sudah merupakan
transmisi lokal dan tidak lagi penularan dari luar negeri. Menurutnya juga,
virus corona kemungkinan telah masuk di Indonesia sejak awal Januari. Pasalnya
setelah diumumkan oleh WHO bahwa virus corona dapat menginfeksi antar manusia,
penerbangan dari dan menuju Wuhan tidak langsung dihentikan oleh pemerintah
Indonesia. Ada sekitar enam bandara yang masih membuka rute tersebut yang berada
di wilayah Batam, Jakarta, Denpasar, Menado, dan Makasar. Pemerintah Indonesia
masih merasa baik-baik saja dan hanya melakukan langkah pencegahan yang
standar, seperti pengguaan Healt Alret Card dan Yellow Card, serta penggunaan
pemindai suhu di pintu masuk dan keluar bandara. Namun langkah pemerintah yang
dapat dikatakan sedikit “meremehkan” ini membuat penyebaran virus corona semakin cepat hingga keseluruh
daerah di Indonesia.[4]
Hingga saat ini COVID-19 telah memakan korban jiwa yang berjumlah sekitar 144
ribu di seluruh Indonesia.
Dampak Ekonomi
Indonesia Akibat COVID-19
Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada
jatuhnya korban jiwa, tetapi juga mengakibatkan terganggunya perekonomian pada
negara-negara terdampak. Ancaman akan terjadinya resesi bahkan depresi sudah
menanti di depan mata. Menurut perkiraan yang dilakukan oleh IMF (International
Monetary Fund), dampak yang ditimbulkan akibat COVID-19 bisa mencapai 12
triliun dollar AS ditambah lagi 95% dari negara-negara terdampak tersebut diperkirakan
akan mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi di zona negatif.[5]
Bahkan IMF memperkirakan penurunan yang cukup
signifikan pada ekonomi Indonesia akibat pandemi COVID-19. Indonesia diprediksi
mengalami kontraksi (tumbuh negatif) sebesar 0,3. Namun apa yang telah
diprediksikan mengenai Indonesia oleh IMF terbukti meleset. Berdasarkan dari
apa yang disampaikan oleh Mentri Keuangan, Sri Mulyani, dampak yang diterima
akibat pandemi COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia dinilai masih relatif
lebih moderat jika dibandingkan dengan negara-negara G20 dan ASEAN yang juga
ikut terdampak. Beberapa negara seperti Thailand dan Malaysia yang telah pulih
pada kuartal II (2021), mengalami pertumbuhan negatif pada kuartal III (2021)
akibat dari virus corona varian
Delta. Menurut Sri Mulyani pada 2020 Indonesia mengalami pertumbuhan -2,07
persen, tetapi telah recover sebesar
7,70 persen pada kuartal II dan 3,51 persen pada kuartal III.[6]
Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak lain
pada perekonomian Indonesia. Menurut Dr. R. Stevanus C. Handoko anggota DRPD
DIY terdapat lima dampak besar yang diakibatkan COVID-19 terhadap perekonomian
Indonesia. Dampak yang pertama yaitu adanya penurunan dalam daya beli
masyarakat. Pemberlakuan PPKM yang tak kunjung usai menghambat masyarakat dalam
beraktifitas ekonomi sehingga menurunkan daya beli masyarakat hingga 60 persen.
Dampak kedua ialah menurunnya nilai investasi di sektor ekonomi. Dengan
menurunnya daya beli masyarakat membuat para investor ragu untuk menanamkan
modal mereka. Dampak ketiga ialah melemahnya ekonomi baik nasional maupun
daerah. Pelemahan disini dimaksudkan pada penurunan penerimaan pajak yang
mengakibatkan berkurangnya anggaran belanja pemerintah. Dampak keempat ialah
adanya perubahan pola bisnis. Pandemi COVID-19 secara tidak langsung merubah
pola bisnis, misalnya sebelumnya terdapat interaksi secara langsung antara
pembeli dan penjual kini hal tersebut tidak lagi terjadi karena digantikan oleh
interaksi melalui smartphone. Dampak kelima ialah adanya peningkatan dalam
pemanfaatan teknologi informasi. Berubahnya pola bisnis memaksa para pelaku
bisnis terutama UMKM untuk menguasai teknologi informasi agar usahanya dapat
bertahan ditengah pandemi.[7]
Kondisi UMKM Kala
Pandemi
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk
memulihkan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah dengan penyelamatan UMKM
dari dampak COVID-19. Penyelamatan inienting dilakukan karena UMKM merupakan
tulang punggung perekonomian Indonesia. Sekitar 57,24 persen dari seluruh PDB
(Produk Domestik Bruto) Indonesia berasal dari UMKM. Menurut Wimboh Santoso,
ketua dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 99,92 persen atau
kurang lebih sekitar 64 juta pelaku usaha berasal dari UMKM yang mayoritasnya
merupakan usaha mikro dan usaha kecil.[8]
Berdasarkan dari hasil survei yang dilakukan
oleh Katadata Insight Center (KIC) sebanyak 82,9 persen UMKM mengalami
pertumbuhan negatif dan hanya sekitar 5,9 persen saja yang mengalami
pertumbuhan positif. Hasil serupa juga dipaparkan oleh beberapa lembaga seperti
BPS (Badan Pusat Statistik), Bappenas (Badan Perencanaan dan Pembangunan
Daerah), dan World Bank. Hasil tersebut menunjukan bahwasannya banyak pelaku
UMKM kesulitan dalam melunasi pinjaman, membayar tagihan listrik, gas, air,
bahkan gaji karyawan. Kendala lainnya ada pada sulitnya memperoleh bahan baku
yang membuat produksi terhambat, kalaupun ada harganya pasti meningkat. Belum
lagi masalah pemodalan, pelanggan yang menurun, serta distriusi yang tidak
lancar akibat PPKM. Berbagai kendala tersebut akhirnya berimbas pada pemutusan
hubungan kerja para pekerja baik sementara maupun permanen, bahkan beberapa
UMKM sampai gulung tikar karena tidak sanggup bertahan kala pandemi.
Melihat hal ini pemerintah melakukan berbagai
upaya yang salah satunya ialah dengan memberikan stimulus melalui sejumlah
kebijakan, seperti restrukturisasi pinjaman, tambahhan bantuan modal,
keringanan pembayaran tagihan listrik, dan dukungan pembiayaan lainnya. Bagi
usaha pemula diberikan dana hibah dan penambahan dana LPDB (Lembaga Pengelolaan
Dana Bergulir). Untuk memudahkan pembiayaan dan pendanaan bagi UMKM, pemerintah
memberikan subsidi bunga, keringanan pembayaran pinjaman, serta mempermudah
persyaratan kredit.
Pemerintah juga telah menyediakan dukungannya
bagi para pelaku UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada
tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2020 pemerintah telah menggelontokan dana
sebesar 112,84 triliun yang telah dinikmati oleh 30 juta UMKM di seluruh
Indonesia sebagai bentuk realisasi kebiakan PEN. Sedangkan pada tahun 2021,
pemerintah telah menyediakan dana PEN sebesar 121,90 triliun guna melanjutkan
pemulihan ekonomi. Susiwijono Moegiarso, sekertaris Kementrian Koordinator
Bidang Perekonomian, berharap dengan adanya kebijakan PEN ini mendorong para
pelaku UMKM untuk kembali pulih di masa pandemi.[9]
Pada akhir 2020 pemerintah mendorong para
pelaku UMKM untuk merubah pola bisnisnya menuju ke arah digital (go digital). Sebanyak 11,7 juta UMKM telah mengikuti
program pemerintah yaitu Gernas BBI
(Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia) dengan tujuan untuk go digital. Pemerintah merencanakan pada
2030 mendatang tercapai 30 juta UMKM yang go
digital. Selain merubah pola bisnis, pemerintah juga mendorong perluasan
pasar UMKM. Tidak hanya pasar domestik namun hingga pasar internasional. Namun
hal tersebut diperlukan kerja sama dari para kemetrian/lembaga, pemerintah
daerah, institusi perbankan, fintech, marketplace, serta seluruh pelaku UMKM. Sebagai
contoh perusahaan platform digital Gojek baru-baru ini bekerja sama dengan
berbagai pihak termasuk pemerintah dengan tujuan untuk membantu para pelaku
UMKM agar dapat naik kelas melalui programnya yakni #MelajuBersamaGojek. Dengan
adanya program ini diharapkan dapat membantu para pelaku UMKM untuk menerapkan
digitalisasi pada bisnisnya, seperti pemasaran, pemesanan, pembayaran,
pengiriman, hingga admministrasi.[10]
Sehingga dapat memperlancar pemulihan ekonomi nasional. Selain itu, pemerintah
mengadakan kegiatan ASEAN Online Sale Day
(AOSD) pada 2020 untuk memperluas jangkauan ekspor produk Indonesia.
Kisah Pelaku UMKM Kala
Pandemi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
bahwasannya UMKM ialah sektor yang paling terdampak akibat pandemi COVID-19.
Banyak bisnis mereka yang mengalami kerugian bahkan ada yang sampai gulung
tikar karena tidak sanggup mempertahankan bisnisnya. Namun disamping itu semua
ada beberapa pelaku UMKM yang mampu beradaptasi dan bangkit kembali.
Seperti kisah dari Evi Ekasari, pemilik usaha
tempe kecil-kecilan yang berlokasi di daerah Sunter Jaya, Jakarta Utara. Pada
saat pandemi penjualan tempenya menurun hingga 30 persen karena sebagian besar
pelanggannya masih libur. Meskipun begitu Evi tidak menyerah begitu saja,
bantuan datang padanya berupa keringanan pembayaran kredit. Peerintah melalui
BRI memberikan keringanan kredit kepada nasabah, khususnya Evi. Dengan
keringanan tersebut sangat bermafaat bagi perkembangan usahanya di tengah
pandemi.[11]
Kisah lainnya datang dari Siti Nurika, pemilik
usaha bawang goreng di kota Tanjungpinang. Usaha ini telah berdiri sejak tahun
2004. Seperti halnya UMKM ang terletak di dekat perbatasan, Siti menargetkan
pasar internasional seperti Malaysia dan Singapura sebagai sasaran
penjualannya. Namun ketika pandemi COVID-19 berlangsung, bisnis bawang
gorengnya mengalami kesulitan hingga hampir mati. Penjualan ke Malaysia dan
Singapura yang biasanya ia lakukan kini tidak bisa lagi karena ditutupnya
perbatasan antar negara. karena pasar internasional tidak bisa, Siti kemudian
melirik pasar dalam negeri dan menargetkan warung-warung kecil dengan kemasan
yang ekonomis. Hal itu dilakukan karena menurutnya masyarakat tidak memiliki
dana yang cukup untuk membeli dalam jumlah besar, mereka hanya mampu membeli
sedikit. Dengan strategi ini bisnis milik Siti dapat bertahan dikala pandemi
bahkan bisa meraup omset hingga 40-45 juta per bulan. Bisnis milik Siti semakin
berkembang dengan adanya program dari Pusat pelatihan dan jaringan bisnis Al
Ahmadi Enterpreneurship Center yang mengupayakan untuk mengadakan ekspor
kembali produk-produk UMKM di Provinsi Riau, khususnya untuk produk milik Siti.[12]
Kesimpulan
COVID-19 yang muncul secara tiba-tiba dengan
penyebaran yang begitu cepat dan
mematikan mengakibatkan banyaknya korban jiwa diberbagai negara. Selain itu
pandemi covid juga mengakibatkan terganggunya perekonomian dunia, khususnya
Indonesia yang juga terdampak COVID-19. Perekonomian Indonesia yang sebelumnya
berada pada angka positif, pada saat pandemi mengalami kontraksi (pertumbuhan
negatif). Namun dampak perekonomian yang dialami Indonesia masih relatif
moderat dibandingkan negara-negara tetangga.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk
memulihkan perekonomian Indonesia salah satunya ialah dengan memulihkan sektor
UMKM. Hal ini dikarenakan UMKM merupakan tulang punggung perekonomian
Indonesia. Pemulihan UMKM dilakukan dengan memberikan keringanan kredit maupun
memberikan subsidi dan stimulus kepada para pelaku UMKM.
Sebagai salah satu sektor yang paling merasakan
dampak dari pandemi, mayoritas UMKM yang mengalami kerugian dan pertumbuhhan ke
arah negatif. Karena hal tersebut banyak UMKM yang merumahkan pegawainya,
bahkan ada UMKM yang gulung tikar akibat dari pandemi. Namun ada beberapa UMKM
yang berhasil bertahan kala pandemi, seperti bisnis yang dijalankan oleh Evi
Ekasari dan Siti Nurika.
Daftar Pustaka
Anonim. Penguatan UMKM sebagai
Penggerak Pemulihan Ekonomi Nasional. https://www.investindonesia.go.id/id/mengapa-berinvestasi/perkembangan-ekonomi-indonesia/penguatan-umkm-sebagai-penggerak-pemulihan-ekonomi-nasional-id. Diakses pada 9 Januari 2022,
08:54.
Ariyanto. 2020. Asal Mula dan
Penyebaran Virus Corona dari Wuhan ke Seluruh Dunia. BAPPEDA Provinsi NTB. https://bappeda.ntbprov.go.id/asal-mula-dan-penyebaran-virus-corona-dari-wuhan-ke-seluruh-dunia/. Diakses
pada 22 Desember 2021, 09:07.
Beritayogya. 2021. Dr. Stevanus :”5 Dampak Besar Pandemik di
Sektor Ekonomi.” https://www.beritayogya.com/dr-stevanus-5-dampak-besar-pandemik-di-sektor-ekonomi/. Diakses pada 7 Januari
2022, 20:19.
CNBC. 2020. Kisah
Pedagang Tempe Lalui Badai Virus Corona. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20200504111755-25-156010/kisah-pedagang-tempe-lalui-badai-virus-corona. Diakses pada 9
Januari 2022, 20:57.
Fadli, Rizal. 2021. Begini
Kronologi Lengkap Virus Corona Masuk Indonesia. https://www.halodoc.com/artikel/kronologi-lengkap-virus-corona-masuk-indonesia. Diakses pada 22 Desember 2021.
Genecraft Labs. 2020. Sejarah Coronavirus : Seluk Beluk si
Penyebab Wabah COVID-19. https://genecraftlabs.com/id/sejarah-coronavirus-penyebab-wabah-covid-19/. Diakses pada 22 Desember
2021, 09:07.
Junaedi, Dedi dan Faisal Salista. 2020. Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Terdampak.
Simposium Nasional Keuangan Negara. Hlm 996-1115.
Lismanseto, Haryo. 2021. Dukungan
Pemerintah Bagi UMKM Agar Pulih di Masa Pandemi. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/2939/dukungan-pemerintah-bagi-umkm-agar-pulih-di-masa-pandemi. Diakses pada 8 Januari 2022, 21:20.
Nurhadi, M. 2021. Kisah Pelaku Usaha Bawang Goreng Kian Sukses
Kala Pandemi: Jangan Mengeluh, Cari Solusi!. https://www.suara.com/bisnis/2021/09/02/113627/kisah-pelaku-usaha-bawang-goreng-kian-sukses-kala-pandemi-jangan-mengeluh-cari-solusi?page=1. Diakses pada 10 Januari 2022, 08:17.
Nurwigati, Holy Kartika.
2021. 4 Skenario Asal Mula Virus Corona
di Wuhan Menurut WHO. https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/11/070300223/4-skenario-asal-mula-virus-corona-di-wuhan-menurut-who?page=all. Diakses pada 21 Desember
2021, 04:34.
Saputra, Dany. 2021. Dampak Pandemi ke Ekonomi Indonesia Lebih Moderat Dibanding Negara Lain.
https://m.bisnis.com/amp/read/20211215/9/1477855/dampak-pandemi-ke-ekonomi-indonesia-lebih-moderat-dibanding-negara-lain. Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.
Susilo, Adityo, dkk. 2020. Coronavirus
Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Vol 7 (1). Hlm 45-67.
Pranita, Ellyvon. 2020. Diumumkan Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk
Indonesia dari Januari. https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli--virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari?page=all#page2. Diakses pada 5 Januari 2022, 13:09.
Pratama, Wibi Pengestu. 2021. Kenapa
UMKM Harus Diselamatkan dari Dampak Pandemi Covid-19? Ini Penjelasan OJK. https://m.bisnis.com/amp/read/20210918/9/1444025/kenapa-umkm-harus-diselamatkan-dari-dampak-pandemi-covid-19-ini-penjelasan-ojk. Diakses pada 8 Januari 2022, 16:02.
[1]
Nurwigati, Holy Kartika. 2021. 4 Skenario
Asal Mula Virus Corona di Wuhan Menurut WHO. https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/11/070300223/4-skenario-asal-mula-virus-corona-di-wuhan-menurut-who?page=all.
Diakses pada 21 Desember 2021, 04:34.
[2] Susilo, Adityo, dkk. 2020. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur
Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 7 (1). Hlm 46.
[3]Fadli, Rizal. 2021. Begini Kronologi Lengkap Virus Corona Masuk
Indonesia. https://www.halodoc.com/artikel/kronologi-lengkap-virus-corona-masuk-indonesia. Diakses pada 22 Desember 2021.
[4] Pranita, Ellyvon. 2020. Diumumkan Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk
Indonesia dari Januari. https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli--virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari?page=all#page2. Diakses pada 5 Januari 2022,
13:09.
[5] Junaedi, Dedi dan Faisal Salista.
2020. Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Terdampak. Simposium Nasional Keuangan
Negara. Hlm 996-1115.
[6] Saputra, Dany. 2021. Dampak Pandemi ke Ekonomi Indonesia Lebih Moderat Dibanding Negara Lain.
https://m.bisnis.com/amp/read/20211215/9/1477855/dampak-pandemi-ke-ekonomi-indonesia-lebih-moderat-dibanding-negara-lain.
Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.
[7]
Beritayogya. 2021. Dr. Stevanus :”5
Dampak Besar Pandemik di Sektor Ekonomi.” https://www.beritayogya.com/dr-stevanus-5-dampak-besar-pandemik-di-sektor-ekonomi/.
Diakses pada 7 Januari 2022, 20:19.
[8] Pratama, Wibi Pengestu. 2021. Kenapa UMKM Harus Diselamatkan dari Dampak
Pandemi Covid-19? Ini Penjelasan OJK. https://m.bisnis.com/amp/read/20210918/9/1444025/kenapa-umkm-harus-diselamatkan-dari-dampak-pandemi-covid-19-ini-penjelasan-ojk. Diakses pada 8 Januari 2022,
16:02.
[9] Lismanseto, Haryo. 2021. Dukungan Pemerintah Bagi UMKM Agar Pulih di
Masa Pandemi. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/2939/dukungan-pemerintah-bagi-umkm-agar-pulih-di-masa-pandemi. Diakses pada 8 Januari 2022,
21:20.
[10]Anonim. Penguatan UMKM sebagai Penggerak Pemulihan Ekonomi Nasional. https://www.investindonesia.go.id/id/mengapa-berinvestasi/perkembangan-ekonomi-indonesia/penguatan-umkm-sebagai-penggerak-pemulihan-ekonomi-nasional-id. Diakses pada 9 Januari 2022,
08:54.
[11]
CNBC. 2020. Kisah Pedagang Tempe Lalui Badai Virus Corona. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20200504111755-25-156010/kisah-pedagang-tempe-lalui-badai-virus-corona. Diakses pada 9 Januari 2022, 20:57.
[12] Nurhadi, M. 2021. Kisah Pelaku
Usaha Bawang Goreng Kian Sukses Kala Pandemi: Jangan Mengeluh, Cari Solusi!.
https://www.suara.com/bisnis/2021/09/02/113627/kisah-pelaku-usaha-bawang-goreng-kian-sukses-kala-pandemi-jangan-mengeluh-cari-solusi?page=1. Diakses pada 10 Januari 2022,
08:17.
Comments
Post a Comment