Makalah: Masyarakat Jawa Dalam Perspektif Sosial

 

Masyarakat Jawa Dalam Perspektif Sosial





 


Makalah ini disusun untuk penugasan Mata Kuliah Historiografi Indonesia yang diampu oleh Prof. Dr. Purnawan Basundoro

 

Disusun Oleh :

Rizky Salam   (121911433033)

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2020


Pendahuluan

Di Indonesia, wilayah yang memiliki jumlah penduduk yang paling banyak terdapat di Pulau Jawa dengan jumlah total pada tahun 2020 mencapai angka 152 juta atau artinya 56% penduduk Indonesia tinggal di Jawa. Penduduk di Pulau Jawa atau bisa disebut juga masyarakat Jawa tidak hanya terdiri dari suku Jawa saja. Namun banyak suku-suku lainnya yang bermukim di Jawa seperti suku Sunda, Tengger, dll yang dari kesemua suku tersebut membentuk masyarakat Jawa yang memiliki beraneka ragam tradis maupun kebudayaan. Selain suku-suku yang sudah dikenal masyarakat secara umum. Dalam bukunya yang berjudul Hikajat Tanah Hindia karya G. J. F. Biegman yang diterbitan oleh percetakan Goebernemen tahun 1894. Pada salah satu bagian dari buku tersebut menyebutkan bahwa terdapat suku lain yang asli berasal dari Jawa, namun jarang dikenal oleh masyarakat Jawa, suku tersebut benama suku Kalang. Suku ini hidup secara nomaden di pedalaman hutan Jawa. Nama Kalang sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya ‘batas’. Kata Kalang disematkan pada suku tersebut dikarenakan dalam berbagai literatur sejarah mereka dikucilkan oleh mayoritas masyarakat pada zaman itu karena dianggap liar dan berbahaya. Ciri fisik yang dimiliki suku Kalang sedikit berbeda dengan penduduk Jawa lainnya, yakni dengan kulit hitam legam dan rambut keriting. Karena perbedaan fisik serta tidak jelasnya asal-usul yang dimiliki suku Kalang membuat otoritas Hindu yang eksis pada waktu itu tida memasukan suku Kalang dalam sistem kasta yang ada. Hal tersebut membuat suku kalang semakin tersisih dari  peradapan ‘kota’ dan hidup di tengah hutan. Bukti sejarah yang merujuk suku Kalang salah satunya terdapat pada prasasti kuburan Candi yang berada di Desa Tegalsari, Kawedanan Tegalrejo, Kabupaten Magelang.

Terdapat berbagai versi mengenai asal-usul masyarakat Jawa yang dikemukakan oleh para ahli. Pertama, menurut para arkeolog yang menyatakan bahwa masyarakat Jawa berasal dari warga pribumi yang telah ada sejak dahulu kala. Pernyataan mereka didasarkan pada temuan beberapa fosil seperti Phitecanthropus Erectus dan Homo Sapien. Kedua, menurut para sejarawan yang menyatakan bahwa masyarakat Jawa berasal dari orang-orang Yunan, China yang melakukan migrasi ke seatan hingga mencapai pulau Jawa. Ketiga menurut tulisan kuno India yang menceritakan bahwa  dahulu tanah Jawa masih terhubung dengan wilayah Asia lainnya. Dalam tulisan tersebut juga menceritakan ada seorang bernama Aji Saka berserta pengiutnya yang mengembara hingga sampai di tanah Jawa yang kemudian membangun peradapan di situ. Keempat menurut surat kuno Keraton Malang yang menceritakan bahwa asal-usul masyarakat Jawa berasal dari Turki. Pada tahun 450 SM raja-raja Turki mengirim rakyatnya untuk pergi mencari  wilayah baru yang masih belum berpenghuni. Sesampainya di suatu wilayah, rakyat Turki merasa sangat senang karena kondisi alam yang ada di wilayah tersebut sangat subur mudah ditanami sesuatu, wilayah tersebut tidak lain adalah pulau Jawa. Mereka akhirnya menetap di pulau Jawa dan membangun peradabannya di sana.

Keadaan Sosial Masyarakat Jawa: Masa Kedatangan Bangsa Eropa

Kedatangan bangsa Eropa di Nusantara diawali oleh bangsa Portugis yang tiba pada tahun 1509 di Malaka. Penjajahan Portugis dimulai pada tahun 1511 dengan dikuasainya Malaka untuk keperluan perdagangan rempah-rempah. Setelah menguasai Malaka, Portugis melanjutkan ekspidinya menuju Maluku yang kala itu merupkan tempat penghasil rempah terbesar. Namun penjajahan Portugis tidak bertahan lama di Nusantara setelah kedatangan pedagang Belanda. Pada tahun 1602 VOC yang terdiri dari para pedagang Belanda berhasil didirikan. VOC dibentuk supaya pedagang Belanda dapat bersaing dalam hal perdagangan rempah dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya di Nusantara. Setelah keberhasilan VOC mengalahkan Portugis membuat dominasi VOC semakin meningkat di Nusantara. Pada tahun 1619 serdadu VOC yang dipimpin oleh J.P. Coen berhasil menduduki Jayakarta yang kemudian diubah namanya menjadi Batavia setelah sebelumnya markas VOC berada di Ambon. Alasan VOC memindahkan markasnya ke Jayakarta karena dinilai lebih strategis sebagai pusat perdagangan rempah dan lebih mudah menjangkau daerah lain di Nusantara.

Ramainya perdagangan rempah yang dilakukan oleh pedagang-pedagang dari manca negara pada masa VOC membuat terciptanya kawasan pemukiman baru. Dalam buku yang ditulis oleh Oliver Johannes Raap yang berjudul Kota Di Djawa Tempo Doeloe memberikan gambaran tentang adanya para pendatang yang tinggal di Pulau Jawa. Sebenarnya kedatangan para pendatang telah terjadi sejak berabad-abad sebelunya dimana para pendatang tersebut berasal dari luar pulau maupun luar negeri. Pada masa VOC (abad ke-17 dan 18) kawasan pemukiman (kampung) bagi para pendatang terbentuk sangat banyak. Dijelasan pula dalam buku tersebut bahwa VOC merekrut pasukan bersenjatanya dari berbagai macam daerah bahkan ada yang didatangkan dari manca nergara. Pasukan-pasukan ini ditempatkan di pedalaman maupun di luar tembok kota sebagai basis pertahanan VOC yang kemudian berubah menjadi kampung militer. Di wilayah Surabaya dan Semarang para tentara VOC ditempatkan di daerah dekat pelabuhan.

Pada bagian selanjutnya Oliver Johannes Raap menceritakan tentang adanya orang-orang Armenia yang datang ke Jawa khususnya wilayah Surabaya dan membentuk suatu perkampungan Armenia pada akhir abad 19. Pada waktu itu, Pasar Besar yang berada di jalan Pahlawan bagian selatan meupakan pusat penjual kain di Surabaya. Orang-orang Armenia berjualan disekitaran jalan, bersaing dengan pengusaha toko dari etnis India dan China. Meskipun orang Armenia berasal dari Asia, namun karena ciri fisik mereka yang memiliki kulit putih dan beragama kristen membuat orang Armenia mendapatkan hak khusus seperti orang-orang Eropa. Para pedagang Armenia dikenal memiliki reputasi yang buruk di masyarakat, karena sering bersikap curang, tetapi meskipun begitu toko-toko Armenia tetap ramai pembeli karena kualitas kain yang dimilikinya lebih bagus dibandingkan dengan toko lainnya.

Dalam buku bunga rampai yang disusun oleh Edi Cahyano dengan judul Jaman Bergerak di Hindia Belanda sedikit memberikan kita gambaran tentang kondisi sosial masyarakat Jawa. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari surat kabar maupun tulisan pribadi yang dirangkai menjadi satu kesatuan. Pada salah satu bagian tulisan yang bersumber dari surat kabar Sinar Djawa ang terbit pada tanggal 20 Februari 1918 yang menceritakan kehidupan seorang Jawa bernama Kromo. dalam tulisan tersebut menceritakan bagaimana kerasnya kehidupan yang dialani oleh Kromo. Dimulai dari pagi hari, Kromo mengeluarkan kerbaunya untuk membajak sawah bersama dengan anaknya. Setelah waktu menunjukan pukul sebelas ia pulang dengan perut kosong. Ia baru bisa makan 2 jam dengan nasi merah dan ikan gerih. Setiap hari ia dan keluarganya tidak tau pasti apakah besok masih bisa makan atau tidak. Hidupnya bertambah berat dengan adanya belasting yang wajib dibayarkan penduduk pribumi kepada pemerintah Hindia Belanda. Gaji yang ia dapatkan selama bekerja menjadi kuli di fabriek-fabriek hanya f 1,20 dalam seminggu, itupun belum dipotong setengah bila melakukan suatu kesalahan kecil menjadi f 0,60 yang ia dapatkan selama seminggu bekerja. Nasib yang dialami Kromo merupakan satu dari sekian banyak nasib yang menimpa sebgian besar masyarakat Jawa pada masa penjajahan Belanda.

Peran Agama Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Jawa

Bagi masyarakat Jawa agama merupakan bagian terpenting dalam kehidupan yang tidak dapat dilepaskan. Dahulu sebelum adanya agama yang masuk di tanah Jawa masyarakat Jawa telah mengenal adanya suatu entitas yang membentuk dan mengatur dunia ini. Mereka berpikir bahwa alam semesta yang rumit ini tidak mungkin tidak ada yang menciptakannya, pasti ada penciptanya. Namun untuk masalah cara mereka dalam menerapkan apa yang mereka yakini dalam kehidupan, itu soalan lain. Setelah datangnya Islam pada abad ke-7, tatanan kehidupan sosial masyarakat Jawa mulai berubah. Melihat bagaimana kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang dibawakan oleh Islam membuat banyak penduduk Jawa memeluk agama Islam. Agama Islam dalam sejarahnya juga sangat berperan dalam perjuangan rakyat Indonesia khususnya rakyat Jawa untuk memperoleh kebebasan yang telah direngut oleh penjajah Belanda.

Hal senada juga disampaikan dalam buku yang ditulis oleh Bernard H. M. Vlekke yang berjudul Nusantara Sejjarah Indonesia. Pada buku ini dijelasan mengapa banyak penduduk tanah Jawa memeluk agama Islam dibandingkan dengan yang lain. Sejak kedatangan Portugis abad 16, Portugis tidak hanya mencari daerah penghasil rempah-rempah saja, namun misi Portugis lainnya adalah untuk menyebaran agama Kristen kepada para penduduk lokal. Tetapi usaha Portugis tidak berhasil, masyarakat Jawa lebih memilih Islam karena dinilai lebih memberikan fleksibilitas yang tinggi ketimbang agama Kristen. Jika mereka masuk Kristen, masyarakat Jawa harus tunduk pada kekuasaan Portugis dan mengganti semua kebudayaan mereka yang bertentangan dengan budaya yang dibawa orang-orang Eropa tersebut. Semua hal tersebut diperparah dengan sikap yang ditunjukan Portugis kepada warga lokal yang semena-mena.

Pada bagian selanjutnya dari buku tersebut juga menjelaskan bagaimana penjajah Belanda dibuat kewalahan dengan perjuangan yang dilakukan oleh umat Islam yang digaungkan dengan kata jihad. Perang Jawa yang dilakukan oleh para pejuang menciptakan suatu trauma yang mendalam bagi Belanda karena menimbulkan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Peristiwa ini membuat Belanda melakukan kajian khusus untuk mempelajari Islam. Pada tahun 1880-an diutus seorang Belanda bernama Christian Snouck Hurgronje untuk melakukan tugas tersebut. Dalam laporannya ia mengatakan bahwa masyarakat Jawa yang toleran akan menjadi mudah marah dan bersedia mati demi agama mereka. Salah satu faktor yang mewujudkan hal tersebut adalah para haji dan pelajar Jawi yang pulang dari Makkah. Mereka mengajarkan ideologi dan pemahaman keislaman yang kaku dan intoleran, menurut Hurgronje. Faktor lainnya adalah kebijakan-kebijakan kolonial yang dianggap tidak adil dan menindas penduduk Jawa. Perpaduan kedua faktor tersebut membuat penduduk Jawa khusunya umat Islam sangat bersemangat dalam melakukan perjuangan.

Perjuangan yang dilakukan masyarakat Jawa tidak lepas dari peran para ulama dalam memupuk semangat maupun melakukan dakwah ke daerah-daerah lainnya. Dalam buku yang berjudul Agama dan Perubahan Sosial karya Taufik Abdullah, ia menjelaskan bagaimana para ulama baik dari Jawa maupun Sumatra berjuang untuk menyebarkan Islam di daerah-daerah pedalaman, seperti Sulawesi Selatan. Para ulama ini memberian pemahaman agama kepada pemuka-pemuka masyarakat dengan caranya masing-masing.

Kondisi Sosial Masyarakat Jawa Dalam Bidang Pendidikan

Masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Dalam buku yang ditulis oleh Olivier Johannes Raap dengan judul Soeka-Doeka Di Djawa Tempo Doeloe, ia menjelaskan bagaimana tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam mendidik anak-anak mereka. Masyarakat Jawa menganggap anak sebagai orang dewasa kecil. Masa anak-anak untuk bermain di rumah atau dalam timangan ibunya tidaklah lama. Setelah berumur setidaknya lima tahun, anak-ana diberikan beberapa tugas seperti membantu orang tuanya. Anak laki-laki bertugas mencari kayu bakar, rumput untuk pakan ternak, atau menggembala ternak di padang rumput. Jika orang tuanya merasa puas akan kinerja anaknya, bisanya sang anak akan dihadiahi anak kambing yang nantinya dapat menjadi modal perternakan miliknya sendiri. Sedangkan untuk perempuan bisanya membantu sang ibu di dapur maupun menjaga adiknya yang masih kecil.

Pada pertengahan abad ke-19 mulai dibuka sekolah-sekolah meski sekolah tersebut hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan dan kaum Eropa. Pada awal abad 20 tepatnya tahun 1907 menjadi titik balik perubahan di Hindia Belanda dengan dibukanya sekolah bagi kalangan bawah untuk anak usia enam sampai sembilan tahun. Dari hal tersebut membuat berbagai perubahan salah satunya dalam bidang pekerjaan (profesi). Dahulu masyarakat Jawa kebanyakan menurunkan profesi yang digelutinya kepada anak-anaknya, misalnya jikan orang tuanya adalah seorang petani ataupun nelayan makan anaknya-pun akan berprofesi sama seperti orang tuanya.

 

Daftar Pustaka

 

Abdullah, Taufik. "Agama dan Perubahan Sosial ." In Gerakan Pembaharuan Masyarakat Islam, by Mattulada, 260-273. Jakarta: Rajawali, 1983.

Biegman, G. J. F. Hikajat Tanah Hindia. Bandar Betawi: Goebernemen, 1894.

Cahyono, Edi. "Jaman Bergerak di Hindia Belanda: Mosaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempo Doeloe ." In Kromo di Jawa, by Sinar Djawa, 61-64. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah, 2003.

Raap, Olivier Johannes. Kota Di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.

—. Soeka-Doeka Di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2013.

Vlekke, Bernard H. M. Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Sejarah: Apanage dan Bekel (Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta (1830-1920))

Artikel: Sensus Penduduk Indonesia Pasca-Proklamasi

Kosakata [言葉] Bahasa Jepang [Part 2]