Sejarah: Meninjau Pemberontakan Petani Melaui Buku "Pemberontakan Petani Banten 1888"



Negara Indonesia selain dikenal sebagai negara maritim juga dikenal sebagai negara agraris. Negara agraris sendiri memiliki definisi, yakni  sebuah negara yang mayoritas peduduknya bekerja pada sektor pertanian.[1] Oleh karenanya Indonesia sebagai negara agraris, peranan petani sangat penting dalam meningkatan kesehjahteraan masyarakat. Istilah ‘petani’ sendiri sampai dengan sekarang masih belum memiliki satu definisi yang disepakati bersama dan digunakan secara universal. Terdapat keberagaman diantara para ahli ilmu sosial yang mendefinisikan pertani Keberagaman ini disebabkan karena dimensi yang dimiliki petani sangat kompleks, sehingga para akademisi sosial hanya memberikan pandangannya sesuai ciri2 yang dominan. Menurut KBBI petani memiliki definisi sebagai seseorang yang pekerjaannya bercocok tanam.[2] Menurut Wolf, petani adalah seseorang yang langsung terlibat dalam proses bercoco tanam dan memiliki otonomi atas keputusan yang berkaitan dengan proses tanam. Dari definisi tersebut seseorang yang dimaksud sebagai petani mencakup penggarap, penerima hasil, maupun pemilik lahan atau siapapun selama orang tersebut memiliki posisi yang relevan mengenai tanaman pertanian mereka.[3] Sedangkan menurut Adiwilanga, petani ialah seseorang yang bercocok tanam di lahan pertaniannya dan atau memelihara ternak yang hasilnya nanti dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 

Pada masa Orde Lama, Dalam salah satu pidatonya pada tahun 50-an, Soekarno membuat akronim dari kata petani yakni “Penyangga Tatanan Negara Indonesia.”[4] Hal ini menunjukan betapa besar jasa para petani. Soekarno juga dikenal dekat dengan para petani. Ideologi Marhaenisme adalah bukti dari seorang Soekarno yang terinspirasi dari seornag petani. Menurut sejarahnya kata ‘petani’ berasal dari bahasa Sansekerta yang akar katanya adalah ‘tani’ yang artinya tanah yang ditanami. Kemudian dalam bahasa Indonesia kata dasar tersebut mendapat imbuhan ‘pe’ di depannya yang merubah makna kata yang sebelumnya merupakan objek berubah menjadi subjek (pelaku)[5]. Sebagaimana kata pelaut dan pedagang yang kata dasarnya merupakan objek, yaitu laut dan dagang. 

 

Sebagai sebuah profesi yang penting bagi bangsa Indonesia. Profesi sebagai petani kini justru tidak mendapat tempat di masyarakat atau lebih tepatnya mulai ditinggalkan oleh para generasi muda yang menganggap bahwasannya peerjaan tersebut dirasa kuno/ ketinggalan zaman. Para generasi muda ini lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik atau pekerja disuatu perusahaan dibandingkan menjadi petani. Banyak faktor yang memperngaruhi hal tersebut salah satunya adalah pendapatan yang dihasilkan petani sangat minim. Dalam tiga kali panen seorang petani hanya dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar 700 hingga 1 juta.[6] Mendapatan keuntungan sebesar itu saja sudah lumayan, terkadang petani bisa sampai merugi dikarenakan gagal panen. Belum lagi masalah mengenai gencarnya pengalihfungsian lahan menjadi kawasan pemukiman ataupun kawasan industri. Semua hal ini terjadi akibat kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan petani, sikap pemerintah yang melakukan impor bahan pangan membuat petani semakin tertekan. Oleh karena itu tak ayal terjadi pemberontakan di kalangan petani terhadap pemerintah. Pemberontakan ini tidak hanya terjadi pada masa sekarang saja, namun telah terjadi jauh pada masa kolonial. Hal ini menunjukan bahwasannya kehidupan para petani selalu berada dikelas sosial terbawah.

 

Suatu pemberontakan tidak dapat terjadi secara tiba-tiba, ada suatu sebab yang memungkinan terjadinya suatu akibat (pemberontakan). Menurut KBBI pemebrontakan sendiri dapat diartikan sebagai penentangan terhadap kekuasaan yang sah. Kekuasaan yang sah ini merujuk pada pemerintaan yang berkuasa pada saat itu yang bertindakk sewenang-wenang.[7] Pada kasus pemberontakan petani ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut, namun secara umum penyebab dari timbulnya pemberontakan tersebut dikarenakan sikap pemerintah yang dirasa merugikan bagi petani. Mengenai penyebab pemberontakan petani akan dijabaran pada subbab berikutnya. Dalam disertasi yang ditulis oleh Sartono Kartodirdjo pada tahun 1966 yang berjudul “The Peasant's Revolt of Bantam in 1888.Its Condition. Course and sequel: A Case Study of Social Movements in Indonesia,” yang kini telah dibukukan dengan judul Pemberontakan Petani Banten 1888. Sartono secara khusus membahas tentang pemberontakan petani mulai dari latar belakang terjadinya peristiwa tersebut hingga akibat yang ditimbulkannya. Sartono mengungkapkan bahwasanya ciri utama dari pemberontakan petani ialah bersifat lokal dan tida ada hubungan antara satu pemberontakan dengan permebrontakan lainnya. Petani-petani tersebut sebagian besar tidak atau masih belum memahami mengapa dan untuk apa mereka memberontak, mereka hanya mengikuti aktor kunci dari pemberontakan dan mereka juga tidak menyadari bahwa mereka telah ikut dalam gerakan sosial yang revolusioner. Tidak ada realisme dalam tujuan mereka, bahkan sebagian besar pemimpin pemberontakan tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana politik berjalan dan tidak memiliki rencana kedepannya apabila pemberontakan berhasil dilakukan. Seakan-akan terjadinya pemberontaan adalah sarana pelampiasan yang mereka gunakan karena frustasi oleh keadaan. Sartono juga menyatakan bahwasannya sudah seharusnya pemberontakan tersebut gagal.

 

Penggunaan istilah “Pemberontakan Petani” (Peasant revolt) menurut Sartono memerlukan sedikit pnejabaran bahwasanya pemberontaan tersebut tidak semata-mata terdiri atas petani. Sebagian besar pemberontakan petani memiliki seorang pemimpin yang bukan dari kalangan petani biasa. Kebanyakan dari mereka berasal dari golongan kelas atas, seperti pemuka agama, kaum ningrat, atau golongan penduduk desa yang memiliki kedudukan terhormat. Dengan adanya orang-orang yang memiliki status tersebut memudahkan penilaian mengenai tujuan gerakan mereka, memudahkan dalam merekrut dan memobilisasi massa, serta dapat memberikan identifiasi simbolis teradap aksi mereka. Para pemimpin pemberontakan mengetahui dengan baik keinginan-keinginan yang dimiliki oleh para petani dan memberikan sarana untuk mengungkapkannya, yakni dengan pemberontakan. Kekuatan petani yang sebelumnya tidak teratur berubah menjadi suatu kekuatan yang cukup berpengaruh. Kekuatan fisik yang dimiliki oleh para petani menjadi faktor mutlak yang harus ada di dalam setiap pemberontakan. Ada juga kaum petani yang melakukan pemberontakan sebagai respon dari sikap pemerinah, namun hanya digunakan sebagai peran pembantu untuk ambisi dari pemimpin pemberontakan. Dalam memobilisasi massa, pemimpin pemberontakan biasanya menggunakan kisah yang telah ada secara turun-temurun, tentang datangnya ratu adil atau Imam Mahdi sebagai seseorang yang menyelamatkan mereka dari ketidakadilan.

 

Sartono memilih topik mengenai pemebrontakan petani untuk membuktikan bahwasannya sejarah mengenai pemberontakan petani tidak bisa dianggap remeh. Pemberontaan petani tersebut memberikan pengaruh yang signifikan bagi perkembangan sejarah Indonesia. Petani bukanlah kaum yang pasif yang bersikap masa bodoh, penurut, dan pasrah kepada nasib. Pemberontakan petani yang terjadi sepanjang abad 19 memberikan gambaran mengenai peranan petani dalam sejarah. Sartono kala itu melihat bahwa jarang sekali bagi seorang sejarawan untuk mempelajari topik-topik yang berkaitan dengan pemberontakan petani karena dianggap sebagai pra-politik, tidak artikulat, dan dianggap tidak ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa bersejarah yang besar.

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Gischa, Serafica. 2019. Indonesia Sebagai Negara Agraris, Apa Artinya?. https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/12/172322669/indonesia-sebagai-negara-agraris-apa-artinya. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

 

KBBI Online. https://kbbi.web.id/berontak. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

 

KBBI Online. https://kbbi.web.id/tani. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

 

Nashrullah, Nashih. 2021. Indonesia Krisis Regenerasi Petani, Ini Saran GMNI. https://www.republika.co.id/berita/qzzuv2320/indonesia-krisis-regenerasi-petani-ini-saran-gmni. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

 

Pandangan Jogja Com. 2020. Benarkah Soekarno Pencipta Kata Petani sebagai Akronim Penyangga Tatanan Negara?. https://kumparan.com/pandangan-jogja-com/benarkah-soekarno-pencipta-kata-petani-sebagai-akronim-penyangga-tatanan-negara-1tYpEVHmWjF/full. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

 

Siadari, Coki. 2015. Pengertian Petani Menurut Para Ahli. https://www.kumpulanpengertian.com/2015/05/pengertian-petani-menurut-para-ahli.html. Diakses pada 24 Oktober 2021, 04:53.

 



[1] Gischa, Serafica. 2019. Indonesia Sebagai Negara Agraris, Apa Artinya?. https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/12/172322669/indonesia-sebagai-negara-agraris-apa-artinya. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

[2] KBBI Online. https://kbbi.web.id/tani. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

[3]Siadari, Coki. 2015. Pengertian Petani Menurut Para Ahli. https://www.kumpulanpengertian.com/2015/05/pengertian-petani-menurut-para-ahli.html. Diakses pada 24 Oktober 2021, 04:53.

[4] Pandangan Jogja Com. 2020. Benarkah Soekarno Pencipta Kata Petani sebagai Akronim Penyangga Tatanan Negara?. https://kumparan.com/pandangan-jogja-com/benarkah-soekarno-pencipta-kata-petani-sebagai-akronim-penyangga-tatanan-negara-1tYpEVHmWjF/full. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

[5] Ibid.

[6]Nashrullah, Nashih. 2021. Indonesia Krisis Regenerasi Petani, Ini Saran GMNI. https://www.republika.co.id/berita/qzzuv2320/indonesia-krisis-regenerasi-petani-ini-saran-gmni. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.

[7] KBBI Online. https://kbbi.web.id/berontak. Diakses pada 23 Oktober 2021, 19:34.


Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Sejarah: Apanage dan Bekel (Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta (1830-1920))

Artikel: Sensus Penduduk Indonesia Pasca-Proklamasi

Kosakata [言葉] Bahasa Jepang [Part 2]