Review buku: Antara Harapan dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870

 



Judul              : Antara Harapan dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870

Penulis              : Moordiati

Penerbit            : Kendi

Halaman           : 99 Hlm

Tahun Terbit     : 2020

ISBN               : 978-602-51303-3-5

Kesan ironis dialami oleh sebagian besar para perempuan (ibu) dan anak di Kedu. Besarnya keterlibatan mereka dalam proses produksi justru harus dibayar mahal dengan semakin menurunnya tingkat kualitas serta kelangsungan hidup mereka. Hal tersebut berlangsung sebelum masa Tanam Paksa hingga pasca-Tanam Paksa. (Moordiati, 2020: 85)

Kematian (mortaitas) merupakan salah satu komponen dari tiga komponen demografi. Tinggi rendahnya angka kematian memiliki pengaruh penting dalam perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap angka kematian, diantaranya adalah faktor kesehatan, kondisi sosial-ekonomi, kondisi pertumbuhan penduduk.

Pada abad XIX terjadi sebuah revolusi di bidang sosial-ekonomi. Terlebih lagi diberlaukannya sistem Culturstelsel atau sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Pada masa tanam paksa terjadi perubahan dalam mekanisme pereonomian penduduk desa ke dalam proses komersialisasi ataupun monetasi. Akibat dari  hal tersebut juga membawa implikasi terhadap pertumbuhan penduduk Jawa yang mengalami kenaikan selama periode tanam paksa begitu pula dengan angka ematian yang juga ikut meningkat. Menurut data rata-rata pertumbuhan penduduk berkisar antara 1,55% hingga 3,05%, sedangkan tingkat kematian berkisar 2,8% per-tahun. Dari data tersebut terlihat bahwa antara tingkat pertumbuhan dengan tingkat ematian berjalan beriringan.

Salah satu wilayah di Indonesia yang merasa langsung beban dari sistem tanam paksa adalah wilayah Kedu. Karesidenan Kedu merupakan sebuah wilayah yang termasuk ke dalam wilayah kekuasaan inti ataupun wilayah Negaragung dari kerajaan Mataram baik Yogyakarta maupun Suakarta. Karesidenan Kedu mempunyai luas sekitar 2054 km^2 yang mencakup dua wilayah kabupaten yaitu Magelang dan Temanggung. Kaesidenan Kedu juga terkena dengan wilayahnya yang strategis karena kondisi alam yang sangat subur. Pada masa tanam paksa, Kedu menghasilkan komoditi yang cukup banyak dibandingkan wilayah yang lain.

Sebelum masa tanam paksa kehidupan masyarakat Kedu masih bertumpu pada kegiatan ekonomi subsisten. Kemudian pertaninan Kedu semakin berkembang tidak hanya sebatas mencukupi wilayahya saja, namun sampai menjual sebagian produksinya ke luar wilayah. Pada masa tanam paksa ada sedikit perubahan terhadap tanaman yang ditanam, dimana sebelumnya Kedu memprioritaskan tanamman pangan seperti padi berubah menjadi tanaman perkebunan seperti kopi, teh, dan indigo. Oleh karena pergantian tanaman inilah yang membuat produksi padi mengalami penurunan belum lagi ditambah hama tikus yang menyerang padi-padi di Kedu. Keadaan masyarakat Kedu semakin menurun, banyak masyarakat tidak bisa membeli beras karena harganya yang melambung tinggi. Kondisi ini diperparah dengan adanya berbagai macam pajak yang dikeluarkan pemerintah yang harus dibayarkan dan jadwal kerja wajib yang dilimpahkan kepada masyarakat Kedu untuk mengurusi perkebunan milik pemerintah.

Selama abad XIX penduduk Jawa mengalami kenaikan angka pertumbuhan yang cukup tinggi. Dalam buku ini menjelaskan bahwasanya hal tersebut disebabkan oleh adanya jaminan keamanan dikarenakan sebelumnya terjadi peperangan yang memakan korban jiwa yang tidak sedikit dan peningkatan derajat kesehatan seperti pemberian vaksin. Faktor lainnya adalah implikasi dari berlangsungnya Cultuurstelsel yang seringkali masih dianggap sebagai indikator utama terhadap tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dikarenakan dengan adanya permintaan tambahan untuk tenaga kerja. Dengan adanya hal tersebut membuat perempuan (ibu) dan anak terpaksa ikut berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Namun tidak hanya kenaikan pertumbuhan penduduk, tetapi terjadi juga kenaikan angka mortalitas maupun modibitas di Kedu. Ada berbagai faktor yang menyebabkan hal tersebut yakni kenaikan harga bahan makanan pokok yang disebabkan kerena sawah-sawah yang digunakan untuk menanam padi dialihfungsikan untuk menanam tanaman perkebunan. Tingkat gizi penuduk yang tidak seimbang dan beban pekerjaan yang berat yang harus ditanggung oleh perempuan dan anak-anak. Terjadinya wabah yang menyerang Jawa, khususnya Kedu diantaranya cacar, demam-tifus, sifilis, dll. Akibat dari wabah ini memakan korban jiwa yang cukup banyak dan sebagian besar dialami oleh perempuan (Ibu) dan anak-anak.

Buku “Antara Harapan dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870” menggunakan bahasa yang mudah dipahami bagi orang awam, informasi yang disajikan juga cukup lengkap. Selain itu buku ini juga menampilkan berbagai tabel data yang memberikan informasi secara detail tentang suatu perkembangan yang terjadi pada masa itu. Namun yang perlu sebaiknya diperhatikan oleh penulils yakni dalam menulis kata demi kata, karena ada beberapa kata yang salah tulis. Ditakutkan nantinya pembaca bisa salah dalam memahami. Buku ini cocok dibaca oleh mahasiswa, dosen, guru, maupun masyarakat umum yang ingin mendalami sejarah Kedu pada tahun 1830-1870.

Daftar Pustaka

Moordiati. 2020. Antara Harapan dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870. Kendi.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Sejarah: Apanage dan Bekel (Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta (1830-1920))

Artikel: Sensus Penduduk Indonesia Pasca-Proklamasi

Kosakata [言葉] Bahasa Jepang [Part 2]