Sejarah Pengaruh Kerajaan Chola Terhadap Situasi Di Zaman Airlangga

 


Nama  : Rizky Salam

NIM    : 121911433033

 

Pendahuluan

Pada zaman dahulu hubungan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara maupun kerajaan manca-negara telah terjadi, baik dalam hal ekonomi, budaya, sosial, dan politik. Berdasarkan data dari para sejarawan hubungan antara masyarakat di kawasan Asia Tenggara, khususnya masyarakat Jawa dengan masyarakat di Asia Selatan telah terjalin sejak abad ke-11. Pernyataan tersebut dapat ditelusuri kebenarannya pada prasasti Cane (943 Saka), prasasti Turunhyang A, dan prasasti Patakan. Dari ketiga prasasti tersebut secara detail menjelaskan perihal pajak yang dikenakan kepada orang-orang asing yang bermukim di wilayah kerajaan pada masa Jawa Kuna, seperti Kliŋ (Kalingga), Aryya, Sińhala (Srilanka), Paņdikira, Karnataka, Drawida, Campa (Vietnam), Kmir (Khmer), Rĕmĕn (Birma).

Wilayah Nusantara sebelumnya merupakan jalur transit yang menghubungkan antara Cina, India, dan Eropa sebagai pusat perniagaan. Terdapat dua jalur yang terkenal pada masa itu, yaitu pertama, jalur yang dikenal sebagai jalur sutra (melalui darat) yang menghungkan Cina kemudian melewati Asia Tengah dan Turkestan, sampai Laut Tengah. Jalur itu juga berhubungan dengan jalan kafilah dari India. Kedua, jalur yang melawati laut, dimulai dari Cina kemudian turun ke selatan melewati laut cina selatan hingga ke selat malaka menuju India. Seiring berjalannya waktu kawasan Asia Tenggara tidak hanya sebagai kawasan lalu lalang namun juga tempat melakukan transaksi jual beli. Khusunya kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang dikenal sebagai pusat penghasil rempah-rempah, membuat banyak pedagang asing melakukan aktifitas perdagangan di tempat tersebut. Namun dengan semakin banyaknya orang asing yang singgah di Nusantara memberikan dampak pada aspek kehidupan lain, seperti kehidupan sosial, kehidupan agama, dan kehidupan politis. Perubahan paling berpegaruh berasal dari kawasan Asia Selatan khususnya kawasan India, dimana proses tersebut dikenal dengan proses ‘Indianisasi.’

Hubungan antara kerajaan di kawasan Asia Selatan dan kerajaan di kawasan Asia Tenggara, salah satunya dapat terlihat pada kerajaan Chola (Asia Selatan) dengan kerajaan Kahuripan (Asia Tenggara). Hubungan tersebut dapat berupa hubungan langsung yang berupa hubungan yang terjadi antar pemerintahan kedua kerajaan karena alasan poitik maupun ekonomi, maupun hubungan tidak langsung yang hanya tampak pada pengaruh-pengaruh yang terjadi.

Pemahasan

Sebelum membahas mengenai hubungan antara dua kerajaan, yakni kerajaan Kahuripan dan kerajaan Chola. Terlebih dahulu memahas gambaran umum yang dimiliki masing-masing kerajaan. Kerajaan Kahuripan merupakan kelanjutan dari kerajaan Medang Kamulan yang didirikan oleh Mpu Sendok. Kerajaan Kahuripan dipimpin oleh raja Airlangga yang secara silsilah merupakan cicit dari Mpu Sendok. Pada usia 16 tahun, Airlangga diperintahkan untuk pergi ke Jawa Timur untuk menikahi putri dari raja Dharmawangsa. Namun pada saat perayaan pernikahan, terjadi sebuah serangan yang dilakukan oleh Raja Wurawari yang didukung oleh kerajaan Sriwijaya. Peristiwa penyerangan tersebut dikenal dengan nama Pralaya yang terjadi pada tahun 1016. Akibat dari serangan tersebut membuat kerajaan Medang mengalami keruntuhan dan menewaskan Raja Dharmawangsa sendiri bersama karib istana.

Beruntung Airlangga muda dapat melarikan diri bersama abdinya, Narottama ke Gunung Wonogiri. Selama disana ia menjalani kehidupan layaknya seorang pertapa, baik jasmani maupun rohaninya ditempa dengan baik. Akhirnya pada tahun 1019, dikarenakan dorongan dari rakyat dan para pendeta, Airlangga menerima pengukuhan dirinya sebagai raja menggantikan Dharmawangsah dengan gelar Cri Maharaja Rake Halu Cri Lokecwara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa. Kemudian Airlangga memindahkan pusat kerajaan ke Kahuripan. Sebagai seseorang yang mendirikan kerajaan Kahuripan, Airlangga merupakan raja pertama dan terakhir yang memerintah kerajaan Kahuripan.

Perjalanan kerajaan Kahuripan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase konsolidasi, fase keemasan, dan fase akhir. Pada masa pemerintahan Airlangga hampir tiga perempat merupakan fase konsoidasi, dimana ia berusaha mendapatkan wilayah kekuasaannya dan menegakkan hegemoninya kembali setelah peristiwa pralaya. Namun ada sebuah penghalang dalam menjalankan kebijakannya, yaitu adanya kekuasaan Sriwijaya yang membentang hingga ke Jawa Tengah.

Momen bagi Airlangga tercipta pada saat kerajaan Sriwijaya tengah berkonfrontasi dengan kerajaan Chola yang berada di kawasan Asia Selatan. Sebelumnya, kerajaan Chola memiliki hubungan yang baik dengan kerajaan Sriwijaya pada masa pemerintahan Rajaraja I. hubungan baik ini dapat dilihat dengan dibangunnya sebuah bangunan suci Budha di Nagipattana (Nagapattinam, pantai Coromandel) oleh raja Sriwijaya, Marawijayottunggawarman. Namun pada saat kerajaan Chola dipimpin oleh Rajendra Chola I pada 1012, hubungan dengan Sriwijaya mulai memburuk. Pada tahun 1017 kerajaan Chola menyerang Sriwijaya. Kemudian serangan kedua dilanjutkan pada tahun 1025. Peristiwa penyerangan tersebut diabadikan dalam prasasti Tanjore yang dibuat oleh Rajendra Chola I.

Penyerangan kerajaan Chola kepada kerajaan Sriwijaya menurut beberapa ahli sejarah dikarenakan keberadaan kerajaan Sriwijaya yang dianggap mengganggu sirkuasi ekonomi kerajaan Chola. Kerajaan Chola dikenal sering bekerja sama sekaligus menjadi pelindung bagi para pedagang Tamil. Dengan adanya kerajaan Sriwijaya yang menguasai selat Malaka mengakibatkan para pedagang yang melewati selat tersebut harus tunduk pada peraturan Sriwijaya. Oleh karenanya, sangat memungkinkan terjadinya konflik antara pedagang Tamil dengan Sriwijaya yang merembet menjadi penyerangan Chola terhadap Sriwijaya.

Agresi yang dilakukan kerajaan Chola memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kerajaan Sriwijaya. Meskipun tidak sampai meruntuhkan Sriwijaya, namun membuat Sriwijaya kehilangan sebagian besar kekuasaannya dan kontrol terhadap wilayah bawahannya. Peristiwa ini memberikan pengaruh terhadap perekonomian di pulau Jawa. Peluang segera dimanfaatkan oleh Airlangga dengan meningkatkan perdagangan yang melewati laut, seperti membangun pelabuhan Kembang Putih yang bertaraf internasional dan membenahi pelabuhan di Hujung Galuh. Selain itu setelah melemahnya kekuasaan Sriwijaya di Jawa, Airlangga berusaha merebut kembali wilayahnya yang telah terpecah. Peristiwa penakluan yang dilakukan oleh Airlangga dijelaskan panjang lebar dalam prasasti Cane, Baru, Kakurungan, Tretep, Pucangan, dll.

Kesimpulan

Pada akhirnya hubungan yang terjadi antara kerajaan Chola dengan kerajaan Kahuripa dapat dikatakan sebagai hubungan tidak langsung. Perubahan kebijakan yang dilakukan kerajaan Chola terhadap Sriwijaya, dimana dulunya memiliki hubungan yang cukup erat yang ditandai dengan dibangunnya bangunan suci di Nagipattana. Kemudian berubah menjadi hubungan yang saling memusuhi, dimana kerajaan Chola menyatakan perang kepada Sriwijaya. Perubahan ebijakkan tersebut secara tidak langsung membantu kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Airlangga menuju masa jayanya.

Daftar Pustaka

Susanti, Ninie. 2010. Airlangga: His Relations to Kings In South And South-East Asia. Makalah.

Ardhana, I Ketut, I Ketut Setiawan, dan Sulanjari. 2016. Religi, Ritual dan Sistem Kerajaan di Jawa Timur: Berdasarkan Tinggalan Arkeologi dan Kesejarahan Masa Raja Aerlangga. Makalah. Universitas Udayana.

Andri Setyo Nugroho. 2021. Jaringan Perdagangan Di Jawa Bagian Timur Pada Masa Kekuasaan Raja Airlangga, 1019-1043. Skripsi thesis. Universitas Airlangga.

Fikri, Muhammad dan Syarifuddin. 2019. Pengaruh Airlangga Terhadap Kemajuan Kerajaan Medang Kamulan. Jambura History and Culture Journal, Vol 1(2), 119-125.

Yuliani, Siti. 2017. Peran Mpu Bharada Dalam Bidang Sosial Dan Politik Pada Masa Raja Airlangga Di Kerajaan Kahuripan. Journal Univversitas Nusantara PGRI Kediri.

Astriana, Siti. 2019. Upaya-upaya Raja Airlangga Dalam Mensejahterakan Rakyat Pada Tahun 1019-1042. Journal AVATARA, Vol 7(1).

Pramartha, I Nyoman Bayu. 2017. Pengaruh Geohistoris Pada Kerajaan Sriwijaya. Journal, Vol 5(1), 1-47.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Sejarah: Apanage dan Bekel (Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta (1830-1920))

Artikel: Sensus Penduduk Indonesia Pasca-Proklamasi

Kosakata [言葉] Bahasa Jepang [Part 2]