Hubungan Sosial Antaretnis di Kota Surabaya
Kota
Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota
Surabaya juga merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Jakarta
Timur. Menurut Badan Pusat Statstik (BPS) jumlah penduduk Surabaya pada tahun
2020 mencapai angka 2.874.313 jiwa. Dengan jumah penduduk yang sangat banyak
serta tingkat keberagaman yang tinggi membuat kota Surabaya disebut sebagai
kota multietnis. Beragam etnis maupun suku yang hidup dan bermukim di Surabaya.
Meskipun sebagian besar penduduk masih mayoritas suku Jawa dan Madura, namun
etnis lain seperti Sunda, Bali, Ambon, Arab, Eropa, Kalimantan, dan Melayu. Keragaman
antar etnis yang tinggi inilah yang membuat Surabaya rawan akan konflik dalam
masyarakat.
Keragaman
etnis yang ada di Surabaya tidak serta merta terbentuk seketika, namun telah
melalui perjalanan panjang yang berawal pada masa kolonialisme. Pada masa
kolonialisme Belanda, Surabaya memegang peranan penting dalam dunia
perdagangan, yakni sebagai pelabuhan utama (colletting
center) yang fungsinya adalah sebagai tempat menghimpun rempah-rempah
sebelum diekspor ke luar negeri. Selain itu kota Surabaya juga terkenal sebagai
pusat industri dengan banyaknya pabrik yang berdiri. Dari hal tersebut membuat
faktor penarik bagi masyarakat sekitar untuk mencari penghidupan di Surabaya.
Ada juga beberapa etnis yang secara khusus didatangkan dari daerah asalnya ke
Surabaya ntuk bekerja sebagai tentara, seperti orang-orang Ambon yang direkrut
Belanda untuk menjadi serdadu KNIL. Pada tahun 1930 diketahui bahwa susunan
penduduk Surabaya 50 persen berasal dari daerah luar Surabaya, seperti
Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, Jombang, Gresik, Tuban, serta kabupaten lainnya
di Jawa Timur.
Seperti
pada penjelasan sebelumnya bahwasannya tingginya keragaman entis di suatu
daerah memiliki potensi untuk menciptakan konflik dalam tubuh masyarakat.
Permasalah-permasalahan tersebut dapat muncul disebabkan oeh beberapa hal
diantaranya, 1) pesatnya pembangunan fisik tanpa dibarengi dengan pembangunan
karekter bangsa sehingga menyebabkan lemahnya jati diri kebangsaan. 2)
kemampuan pemerintah dalam mengelola keragaman etnik yang belum optimal yang
ditandai dengan adanya a) disorientasi terhadap nilai kekeluargaan,
solidaritas, toleransi, dan menghargai, b) perubahan ruang publik menjadi ruang
privat yang menyebabkan terbatasnya ruang aspirasi untuk masyarakat multietnik.
3) penurunan terhadap identitas nasional yang ditandai dengan a) sikap moral
dan penanaman nilai budaya serta agama yang belum cukup, sehingga terdapat
kecenderungan terhadap sikap materialisme, b) terbatasnya masyarakat untuk
menyaring nilai dan budaya luar, sehingga nilai dan budaya nasional menjadi
terkikis.
Konflik-konflik
yang berlandaskan etnisitas pernah terjadi di Indonesia tepatnya pada saat
akhir kekuasaan Orde Baru. Pemerintahan Orde Baru yang membuat regulasi dan
gerakan politik yang ketat membuat kebebasan ekspresi atas etnisitas dan agama
menjadi terbatas. Hal ini memunculkan rasa dendam, kekecewaan, dan diskriminasi
dalam hati masyarakat. Sampai pada puncaknya ketika kekuasaan Orde Baru
memasuki tahap akhir, perasaan yang telah lama dipendam masyarakat tumpah-ruah
hingga menimbulkan konflik antar etnis. Beberapa konflik tersebut seperti
konflik di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, dan Poso.
Di Surabaya
sendiri meskipun memiliki keragaman etnis yang cukup tinggi dan sering terjadi
konflik antaretnis, namun konflik tersebut tidak sampai menjadi besar seperti
pada daerah-daerah lainnya. Pada sebuah jurnal yang ditulis oleh Nikmah dan
Andika dengan judul ‘Relasi Antaretnis Di Kampung Arab (Studi Komunikasi
Antarbudaya di Kelurahan Ampel Surabaya)’ menggambarkan bagaimana hubungan yang
terjadi antar etnis yang ada di kawasan Ampel, Surabaya. Dalam jurnal tersebut
dijelaskan bahwa setiap etnis yang bermukim di sana masih mempertahankan budaya
asli mereka. Karena perbedaan budaya inilah yang menyebabkan timbulnya masalah
dalam masyarakat. Pada etnis Madura misalnya yang dipersepsikan sebagai orang
kurang bisa menghargai dan mengerjakan sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri
tanpa memikirkan orang disekitarnya, meskipun tidak semuanya seperti itu. Untuk
etnis Arab dikenal sebagai orang yang jarang bergaul dan berinteraksi dengan
tetangga atau kepada orang luar yang belum mereka kenal. Namun mereka akan
bersifat terbka kepada orang yang mereka kenal. Dan untuk etnis Jawa
dipersepsikan sebagai orang yang baik, ramah, sopan, mudah diatur, dan memiliki
kecakapan komunikasi dengan masyarakat disekitarnya. Karena itulah etnis Jawa
di kawasan Ampel dikenal diam, mudah bergaul, dan dalam pergaulan tidak memilih
teman.
Gambaran
mengenai hubungan antaretnis di Surabaya juga dijelaskan dalam jurnal yang
ditulis oleh Dhika dan Sugeng dengan judul ‘Masyarakat Multikultur Perkotaan
(Studi Relasi Antaretnis dalam Kegiatan Ekonomi di Wilayah Perak Surabaya).’
Dalam jurnal diceritakan bahwa ada sebuah perusahaan meubel yang pemiliknya
merupakan etnis Jawa. Pemiik usahan ini memiliki pekerja dari berbagai etnis,
seperti Batak, Ambon, Flores, Papua, dan Banjar. Ia tidak memilih pekerja
berdasarkan etnis namun lebih berdasarkan pengalaman orang tersebut dalam
mengemudikan kendaraan ataupun menjadi kernet truk. Meskipun demikian si
pemilik berusaha menghindari untuk merekrut pekerja dari etnis dari Madura. Hal
ini dikarenakan ia memiliki stereotipe terhadap etnis Madura berdasarkan
pengalaman pribadinya bahwasannya etnis Madura mencoba untuk mengambil alih
perusaannya dengan cara mempengaruhi pekerja lainnya untuk pindah ke perusahaan
yang disarankan oleh etnis Madura.
Dari dua
contoh diatas terlihat bahwasannya masih terjadi labelilsasi terhadap
karateristik seseorang menggunakan karateristik etnis yang diamini mayoritas
masyarakat maupun berdasarkan pengalaman pribadi. Sikap seperti ini merupakan
hal yang buruk bagi bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang multietnis. Kita
tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan etnis karena setiap orang
memiliki karakternya masing-masing dan tidak sama antara satu dengan yang lain.
Daftar
Pustaka
Aryati, Gempita dan Daraninggar. 2019. Relasi
Sosial Antaretnis Di Kota Surabaya (Studi Kasus Pada Kampung Kalimas Barat Di
Kelurahan Krembangan Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya). Jurnal S1 Sosiologi Universitas Airlangga. Hlm 1-16.
Prakasita, Dhika Niti dan Sugeng Harianto.
2017. Masyarakat Multikultur Perkotaan (Studi Relasi Antaretnis dalam Kegiatan
Ekonomi di Wilayah Perak Surabaya). Jurnal
Paradigma 5(3): 1-9.
Prayitno, Ujianto Singgih dan Purnawan
Basundoro. 2015. Etnisitas dan Agama di kota Surabaya: Interaksi Masyarakat
Kota dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik. Pusat
Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI.
Suryandari, Nikmah dan Andika Trilaksono. 2019.
Relasi Antaretnis Di Kampung Arab (Studi Komunikasi Antarbudaya di Kelurahan
Ampel Surabaya). Jurnal Komunikasi XIII(2):
141-148.
Comments
Post a Comment