Analisis Kehidupan Sosial Masyarakat Jawa: Historiografi Tematik
Oleh: Rizky Salam[1]
Pendahuluan
Historiografi
yang mengkaji tentang kehidupan sosial masyarakat Jawa memang telah banyak dilakukan
oleh para ahli. Historiografi mengenai hal ini menarik untuk dibahas dikarenakan
di Indonesia, wilayah yang memiliki jumlah penduduk yang paling banyak terdapat
di Pulau Jawa dengan jumlah total pada tahun 2020 mencapai angka 152 juta yang
artinya 56% penduduk Indonesia tinggal di Jawa dan juga banyaknya kajian yang
dilakukan oleh sejarawan pada zaman dahulu hingga sekarang yang mengambil objek
kajiannya di wilayah Jawa. Beberapa kajian dari para sejarawan akan penulis
bahas pada bagian berikutnya.
Pembahasan
Dalam
pembahasan ini penulis menggunakan tiga buku sebagai acuan untuk membahas
kehidupan sosial masyarakat Jawa. Buku pertama yang digunakan ialah buku yang
berjudul Soeka-Doeka Di Djawa Tempo
Doeloe yang ditulis oleh Oliver Johannes Raap. Buku ini dicetak pertama
kali pada tahun 2013 oleh penerbit KGP (Kepustakaan Populer Gramedia) yang
berasal dari Jakarta. Buku karangan dari Raap ini sedikit unik dibandingkan
buku-buku lainnya. Pada buku ini Raap mengisahkan tentang perjalanan hidup
masyarakat Jawa dengan menggunakan media kartu-kartu pos yang terbit pada
sezaman. Dengan menggunakan media kartu pos, Raap dengan detail menyajikan
sebuah narasi yang sesuai dengan kejadian yang terjadi pada setiap foto. Melalui
foto sekaligus narasi yang disampaikan tersebut, Raap berharap dapat memudahkan
pembaca untuk berimajinasi tentang keadaan yang terjadi kala itu.
Pada
buku ini Raap membahas tentang adanya suatu perbedaan status sosial antara
laki-laki dengan perempuan. Laki-laki biasanya difoto untuk menunjukan status
ataupun pekerjaan mereka, sedangkan model perempuan difoto untuk diperlihatkan
kecantiannya. Maka dari itu jarang sekali laki-laki yang berada di studio
pemotretan dibandingkan perempuan. Laki-laki biasanya difoto saat berada di
suasana ramai ataupun berada di luar lingkungan. Perbedaan lainnya juga terlihat
pada kesenian gamelan dimana perrempuan tidak boleh memainan gamelan maupun
mempelajarinya. Larangan ini dilakukan karena sebelum pentas para penabuh harus
berpuasa terlebih dahulu dan pertunjukan gamelan kerap dimainkan pada malam
hari serta tidak hanya satu tempat saja melainkan berkeliling. Maka dari itu
bagi perempuan yang main gamelan maupun ikut grub gamelan biasanya akan
mendapatan citra buruk dari masyarakat.
Pada bagian selanjutnya Raap
menceritakan tentang bagaimana masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam
memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Masyarakat Jawa menganggap anak
sebagai orang dewasa kecil. Masa anak-anak untuk bermain di rumah atau dalam
timangan ibunya tidaklah lama. Setelah berumur setidaknya lima tahun, anak-ana
diberikan beberapa tugas seperti membantu orang tuanya. Anak laki-laki bertugas
mencari kayu bakar, rumput untuk pakan ternak, atau menggembala ternak di
padang rumput. Jika orang tuanya merasa puas akan kinerja anaknya, bisanya sang
anak akan dihadiahi anak kambing yang nantinya dapat menjadi modal perternakan
miliknya sendiri. Sedangkan untuk perempuan bisanya membantu sang ibu di dapur
maupun menjaga adiknya yang masih kecil.
Buku kedua berjudul Agama Jawa: Abangan Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa yang ditulis oleh Clifford Geertz. Buku ini
pertama kali dcetak The
Free Press of Glencoe London dengan judul asli The Religion of Java (1960).
Kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Pustaka Jaya pada tahun 1983. Secara garis besar
buku ini menjelaskan tentang pembagian masyarakat Jawa menjadi tiga varian
keagamaan yang ada di Jawa, khususnya Mojokuto. Tiga varian tersebut antara
lain abangan, santri, dan priyayi.
Varian
pertama yakni abangan, dimana menurut Geertz varian ini merupakan varian
keagamaan yang menitik beratkan pada aspek animistis dari sinkretisme Jawa
sebagai pola keagamaannya dan senatiasa dihubuungan dengan petani yang tinggal
di pedesaan. Masyarakat yang termasuk dalam varian ini menurut Greertz adalah
masyarakat yang cukup menarik. Disatu sisi mereka cukup abai terhadap doktrin
keagamaan yang ketat, disisi lain kaum abangan menampilkan bentuk kasar dari
perilaku priyayi.
Varian
kedua yakni santri, dimana menurut Greertz varaian ini lebih condong untuk
menaati ajaran-ajaran Islam secara lebih mendetail. Menurut Geertz kaum santri
merupakan kalangan yang mewakili aspek-aspek Islami yang pada umumnya dikaitkan
dengan elemen dagang dan sebagain dari elemen tani. Dalam varian ini Geertz
melihat adanya sebuah paham yang memecah kaum santri menjadi dua kelompok,
konseratif dan modern. Kelompok konservatif yang secara sederhana digambarkan
dengan masyarakat yang ingin menjaga apa yang telah ada, baik berupa dalam
kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan spiritual. Sedangkan untuk keompok
modern yang secara sederhana dapat digambaran sebagai sebuah keinginan tentang
adanya perubahan dalam kehidupan masyarakat agar sesuai dengan perembangan
zaman.
Varian
ketiga ini disebut sebagai priyayi, dimana menurut Greertz priyayi merupakan
kalangan yang memiliki kedudukan yang elit di tengah masyarakat Jawa. Kaum
priyayi dapat digambarkan sebagai kelompok yang menepati jabatan di dalam birokrasi
pemerintahan sejak zaman kerajaan hingga pada zaman kolonial. Pada mulanya
priyayi pada masa kerajaan adalah seseorang yang memiiki darah keturunan
bangsawan. Namun pada masa kolonial orang-orang yang masuk kedalam sistem
pemerintahan kolonial dapat dianggap sebagai priyayi meskipun priyayi asli
memilii derajat yang lebih tinggi dibandingkan priyayi palsu. Geertz
menggambarkan sosok priyayi adalah kelompok masyarakat yang mewarisi kebudayaan
Jawa. Ada empat unsur yang menjadi tolak ukur untuk menbedakan apakah seorang
itu priyayi atau bukan. Keempat unsur tersebut adalah etiket, bahasa, kesenian,
dan mistik.
Buku
ketiga yang menjadi acuan penulis untuk melihat keadaan sosial masyarakat jawa
adalah buku yang berjudul Antara Harapan
dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870. Buku
ini ditulis oleh Bu Moordiati dan dicetak oleh penerbit Kendi pada tahun 2020. Buku
ini membahas tentang keadaan sosial masyarakat di karesidenan Kedu pada masa
Tanam Paksa (1830-1870). Banyaknya masyarakat mengalami kehidupan yang sengsara
yang disebabkan program tanam paksa yang dijalankan pemerintah kolonial. Dari
hal tersebut juga membuat tingkat kematian padda masa itu sangat tinggi
kgususnya untuk ibu dan anak.
Secara
umum buku ini terdiri dari lima bab. Bab satu membahas pedahuluan bab dua
menjeaskan tentang keadaan desa Kedu pada abad XIX. Bab tiga menjelaskan
tentang kelangsungan hidup penduduk Kedu, dimana pada bagian ini dijelaskan tentang
dimulainya masa Tanam Paksa yang merubah pola kehidupan penduduk Kedu. Bab
empat membahas tentang kehidupan ibu dan anak pada masa Tanam Paksa dan juga
wabah-wabah yang muncul pada masa tersebut. Bab lima berisi kesimpulan.
Analisa
Perbedaan Historiografis Pada Ketiga Buku
Terdapat
tiga buku yang digunakan penulis untuk menggambarkan kondisi sosial masyarakat
Jawa, yakni buku berjudul Soeka-Doeka Di
Djawa Tempo Doeloe, Agama Jawa: Abangan Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa, dan
Antara Harapan dan Kenyataan: Kematian
Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870. Adapun perbedaan dari ketiga
buku tersebut antara lain:
Pada
buku pertama “Soeka-Doeka Di Djawa Tempo
Doeloe” menggambaran kehidupan masyarakat Jawa yang diceritakan melalui
media kartu pos. Dalam buku tersebuut juga membahas secara detail mengenai perbedaan
antara laki-laki dan perempuan pada masa itu, pendidikan, pernikahan, busana,
dll.
Pada
buku kedua “Agama Jawa: Abangan Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan
Jawa” digambarkan mengenai klasifiasi masyarakat Jawa menjadi tiga jenis,
yakni abangan, santri, dan priyayi. Pendekatan yang dilakukan Geertz adalah
pendekatan antropologis yang membuat isi dari buku ini sangat detail dalam
menjelaskan perbedaan dari ketiga varian tersebut.
Buku
terakhir yang berjudul “Antara Harapan
dan Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870” menjelasan
tentang dinamika kehidupan yang terjadi di Kedu yang diambil dari perspektif
sosial-ekonomi. Buku ini juga dilengkapi dengan tabel-tabel yang diperoleh dari
arsip sezaman yang dapat meningkatkan keakuratan peristiwa yang terjadi pada
masa itu.
Kesimpulan
Kehidupan
sosial masyrakat Jawa memang selalu menarik untuk dibahas. Dari ketiga buku
tersebut kita dapat mengetahui tentang kondisi sosial masyarakat yang terjadi
pada waktu itu. Dari hal tersebut pula kita dapat mengambil sebuah pelajaran,
baik pelajaran positif maupun negatif yang dapat digunakan untuk menuju
kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
Daftar
Pustaka
Geertz, Clifford. Agama Jawa:
Abangan, Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya,
1985.
Moordiati. Antara Harapan dan
Kenyataan: Kematian Ibu dan Anak di Karesidenan Kedu 1830-1870. Kendi,
2020.
Raap, Olivier Johannes. Kota Di
Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.
Comments
Post a Comment