Review Buku : ASIA TENGGARA DAlAM KURUN NIAGA 1450-1680 (jilid 1 : Tanah di Bawah Angin)
Karya : Anthony Reid
Tebal : xxxiv + 322 him.; 24 cm
Reid dalam buku
ini Reid menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Asia Tenggara mulai dari
kondisi geograis, kehidupan sosial kemasyarakatannya, hasil kebudayaannya,
aturan-aturan mengenai hubungan antar masyarakatnya, dan berbagai macam hiburan
dan kesenian yang diciptakan oleh masyarakat. Semua hal tersebut terangkum
semua dalam buku ini.
Untuk bab
pertama dalam buku ini, Reid mulai bercerita tentang kondisi geografis daripada
wilayah Asia Tenggara. Wilayah ini terletak di sebelah tenggara benua Asia.
Terdiri atas kumpulan kepulauan-kepulauan kecil maupun besar serta beberapa
wilayah yang terhubung dengan daratan utama. Selain itu di Asia Tenggara juga
dilalui oleh jalur pegunungan yang kemudian membentuk menjadi pulau-pulau yang terdiri
dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa. Sebenarnya meskipun terlihat
terpisah antara satu pulau dengan pulau yang lain pada mulanya Asia Tenggara
merupakan satu daratan utuh yang bernama Paparan Sunda. Karena adannya peristiwa
cairnya es pasca zaman es membuat ketinggian air laut bertambah dan menutupi
sebagian daratan hingga menjadi sekarang.
Karena berada di
garis katulistiwa membuat keadaan musim di sepanjang wilayah Asia Tenggara
hanya memiliki dua musim saja, yakni musim hujan dan kemarau yang kedua musim
itu disebakan oleh adanya angin musim dan muson. Biasanya perubahan angin ini
digunakan oleh para pelaut untuk melakukan perjalanan.
Pada bab kedua,
Reid mulai membicarakan tentang kondisi orang-orang ataupun kondisi sosial
masyarakat yang ada di Asia Tenggara. Di Asia Tenggara sebagian besar
masyarakatnya merupakan keturunan dari bahasa yang sama yaitu rumpun bahasa
Austronesia. Bahasa Austronesia yang berkembang di wilayah Asia Tenggara
merupakan versi yang lebih tua dari pada versi-versi yang lain yakni
Proto-Austronesia yang telah ada sekitar lima ribu tahun yang lalu.
Soal budaya di
Asia Tenggara jangan diragukan lagi. Meskipun mendapat pengaruh dari India dan
Cina namun budaya yang berkembang sangat beragam. Tetapi meskipun keragaman
budaya yang dimiliki yang sangat bervariasi, ada beberapa suku atau bahkan
mayoritas suku memiliki budaya yang hampir mirip. Karena semuanya berpangkal
pada kebudayaan Austronesia yang masih lestari di sekitar lingkungan
masyarakat. Di Asia Tenggara juga memiliki keragaman dalam hal agama. Agama
yang terdapat di Asia Tenggara kebanyakan merupakan agama sinkretis atau telah
mengalami peleburan dengan budaya setempat. Karena terjadinya sinkretisasi inilah
yang menyebabkan keragaman agama yang cukup tinggi di Asia Tenggara.
Di buku ini juga
menjelaskan pada zaman itu pertumbuhan penduduk di sebagian wilayah mengalami
penyusutan seperti di Jawa, Siam, Birma, dan Vietnam. Namun didaerah yang lain
malah mengalami kenaikan seperti yang dialami pada wilayah Fiipina. Akibat dari
penurunan penduduk ini berimbas pada bidang-bidang yang lain salah satu contohnya
adala peranian. Mengenai pertanian sendiri masyarakat pada zaman itu kebanyakan
menanam tanaman seperti umbi-umbian (misalnya talas, ubi jalar, ubi kayu) dan
biji-bijian (misalnya sorgum, gandum, padi). Untuk menanam tanaman tersebut
masyarakat biasanya dilakukan dengan banyak orang sekaligus dengan membuka
lahan di hutan kemudian hasil dari bertani tersebut dibagikan secara merata.
Setelah menggunakan lahan tersebut biasanya masyarakat tidak lagi menggunakannya
lagi, berpindah mencari lahan baru yang masih subur.
Makanan utama
yang diperdagangkan dari masyarakat Asia Tenggara ini kebanyakan adalah ikan
dan garam, selain beras sebagai makanan pokok. Selain dari makanan yang biasa
mereka makan. Mereka juga memakan rempah-rempah dan daging mentah yang berasal dari ayam, babi, maupun
kerbau. Semua itu mereka lakukan untuk menjalankan ritus mereka. Ada juga minuman
aggur yang diminum saat sedang melakukan perayaan dan makanan gabungan dari
sirih dan pinang yang digunakan sebagian besar masyarakat untuk menjamu tamu.
Orang-orang di
Asia Tenggara pada zaman niaga memilliki kebiasaan bersih diri dengan cara
mandi sebagai syarat kesehatan tubuh dan mereka juga sudah mempunyai sistem
tersediri tentang bagaimana cara mereka buang hajat dan bagaimana cara mereka
mengelola kotoran mereka. Cara mereka dalam mengenali penyakit dan cara
penyembuhannya patut di puji. Sistem penyembuhan yang telah dipraktekkan pada
waktu itu ialah ramuan tumbuhan, mandi, dan pemijatan. Namun pada abad ke-14
terjadi di Ayutthaya terjadi sebuah endemik yang tidak dapat disembuhkan dengan
metode penyembuhan pada waktu itu.
Selanjutnya pada
bab tiga dijelaskan yang pertama mengenai struktur dari bangunan-bangunan yang
berdiri di Asia Tenggara yang dari bangunan tersebut kita dapat melihat bagaimana
bagunan atau rumah dibangun atas dasar pertimbangan agama dan praktisitas. Pada
rumah panggung yang dimiliki oleh raja dan kalangan bangsawan dibuat lebih
tinggi daripada kepunyaan rakyat biasa. Bangunan agama dibuat dengan batu dan
bata seperti yang terliat pada candi-candi yang ada. Sedangkan untuk masjid
dibuat dari semen dan batu sebagai pondasi, kayu dan jerami sebagai tiang dan
atap seperti yang terlihat dari masjid besar di Aceh. Untuk seseorang saudagar
yang memiliki harta yang banyak, ia akan memmilih untuk membangun gudangnya
dari batu bata untuk menghirdarkan mereka dari bahanya kebakaran. Namun untuk
rakyat biasa yang tidak memiliki kekayaan yang cukup, mereka hanya membangun rumah
mereka dari bahan-bahan yang ringan. Perabotan yang dimiliki masyarakat pada
umumnya-pun masi sederhana. Hanya tikar untuk alas mereka duduk dan daun pisang
yang digunakan sebagai alas makan.
Masyarakat Asia
Tenggara pada waktu itu juga sudah mengenal bentuk seni meraah tubuh atau tato.
Fungsi utama tato menurut masyarakakat pada saat itu adalah sebagai jimat atau
sebagai lambang keberanian karena dalam pola-pola yang terdapat pada tato
dianggap memiliki kekuatan magis. Setelah kedatangan Islam tato mulai dilarang,
sebagai gantinya kebiasaan menggambar tubuh dialihkan menjadi menggambar pada
kain atau membatik.
Di Birma pada
abad ke-18 penggunaan gulungan tipis emas di daun telingan pada pria maupun
wanita digunakan sebagai tanda mereka telah memasuki usia remaja atau dewasa. Ada
juga di wilayah lain yang menggunakan perhiasan yang sama pada daun telinga
mereka namun yang membedakan ialah semakin besar lubang pada daun telingan
mereka semakin tinggi pula status sosial mereka di masyarakat. Perhiasan yang
dipakai masyarakat biasanya terbuat dari bahan emas karena emas bagi masyarakat
pada zaman niaga adalah lambang dari kekayaan yang mereka miliki. Pada awal
abad 17 di Minangkabau merupakan salah satu daerah dari kerajaan Sriwijaya yang
paling kaya kerena terdapat daerah tambang emas. Berbeda dengan
kerajaan-kerajaan yang terletak di daerah Jawa yang tidak mempunyai tambang
emas sendiri.
Selain kerajinan
yang terbuat dari bahan emas seperti yang telah dielaskan sebelumnya.
Masyarakat Asia Tenggara juga memiliki spesialisasi kerajinandibidang lain
pula. Seperti pembuatan keramik yang telah dilakukan oleh masyarakat di
sebagian besar wilayah Asia Tenggara pada zaman dahulu, pembuatan kerajinan
dari bahan besi yang menjadi titik vital bagi berkembangnya peradaban pada masa
itu, dan yang terakhir adalah kerajinan yang berbahan dasar tembaga, timah, dan
timah putih dimana sejak 2000 SM atau lebih telah ada pengeerjaan logam dari
bahan tersebut.
Pada bab keempat
Reid memaparkan mengenai pengaturan masyarakat. Pada zaman dahulu khususnya
pada kurun niaga terdapat suatu hierarki yang sangat melekat pada masyarakat
dan juga berjenang. Untuk menjadi raja pada zaman itu sesorang harus memiliki
banyak pengikut. Sang tuan menyediakan perlindungan dan hamba sahaya memiliki
kewajiban ang berbeda-beda sesuai kedudukannya, namun biasanya secara garis
besar mencakup bantuan.
Dalam perjalanan
sejarah, perang adalah suatu hal yang wajar terjadi diantara kerajaan satu
dengan yang lain. Tujuan perang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tenaga
kerja dari wilayah seberang, bukan untuk membuang-buang nyawa dalam pertempuran
habis-habisan. Maka dari itu dalam dunia Melayu dikenal dengan istilah “amok”
yang memilliki berarti usaha seseorang untuk membunuh atau menewaskan sejumlah
musuh, meskipun jiwa sendiri harus dikorbankan. Jika orang yang mengamok
tersebut dapat melukai pimpinan dari pasukan musuh, maka pemenang pertempuran
sudah dapat diputuskan.
Dalam kronik
maupun prasasti yang ditemukan di Asia Tenggara peristiwa mengenai kemenangan
raja-raja mereka dari peperangan selalu digambarkan bahwa kemenangan tersebut
berkaitan dengan kekuatan adikodrati tidak pada faktor-faktor teknis perang.
Misalnya dalam Hikayat Patani yang menggambarkan kemenangan Patani atas
Palembang dikaitkan dengan adanya daulat Sultan Manzur Shah sebagai tuan raja.
Memang pada zaman itu memahami bahwa kekuatan bersumber dari hal-hal yang
berbau spiritual seperti menjajlani ritus, meditasi, mantra-mantra, dan berkah
dari Tuhan.
Kemenangan pada
perang sangatlah penting bagi suatu kerajaan karena seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya perang untuk mendapatkan tenaga kerja yang berupa tawanan
perang sekaligus mendapat harta rampasan perang dari kerajaan yang kalah. Para
tawanan perang biasanya dijadikan budak pekerja. Di Aceh para tawanan perang
yang berstatus budak diperintahkan oleh raja untuk membabat hutan, menggali
batuan, mengaduk semen, membangun gedung-gedung, dan pekerjaan kasar lainnya.
Adanya hukum
atau sistem hukum di suatu kerajaan bisa berbeda-beda keefektifannya tergantung
bagaimana sang raja itu sendiri dalam mengelolanya. Jika sang raja dapat
mengelola dengan baik maka tingkat kejahatan dalam masyarakat juga ikut menurun
begitu pula sebaliknya. Setelah masuknya Islam terjadi perubahan hukum menjadi
hukum Islam dan hal itu secara otomatis menghilangkan adanya perbudakan karena
dalam Islam tidak boleh menjadikan sesama mukmin sebagai budak.
Perkawinan atau
hubungan antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan kesusastraan menjabarkan
bahwa hubungan pada waktu itu para perempuanlah yang memiliki dominasi terhadap
laki-laki. Bukti nyata dari pernyataan terseut adalah pembedahan yang dilakukan
kaum lelaki terhadap alat vital mereka untuk dipasangi semacam roda, taji, atau
kancing yang berlaku di wilayah Filipina bagian tengah dan selatan serta
sebagian Borneo. Di daera lain juga melakukan hal tersebut namun dengan cara
yang lebih halus.
Pola pernikahan
yang dilakukan pada masa itu adalah monogami dengan percerainya yang dapat
dilakukan dengan mudah oleh setiap pasangan. Sangat umum terjadi perceraian
dikalangan rakyat biasa untuk mengakhiri pernikahan yang mengecewakan. Berbeda
dengan raja yang memiliki ketentuan untuk dapat mempunyai istri lebih dari
satu. Banyaknya istri yang dimiliki oleh seorang raja berkaitan erat dengan
status dan senjata diplomasi. Banyak bangsawan atau para bawahan raja
menawarkan anak gadis mereka untuk dinikahkan dengan raja agar supaya
mendapatkan sedikit kewenangan dari sang raja.
Pada bab kelima
atau bab terakhir ini Reid menjabarkan tentang pesta, keramaian dan dunia
hiburan. Permainan rakyat pada zaman itu identik dengan yang namanya
kecenderungan untuk bertaruhan atau judi. Kerajaan-kerajaan zaman dahulu
terdapat suatu pola dimana kerajaan tersebut mengatur dan mengeloa banyak
tempat perjudian. Ada beberapa permainan atau perlombaan yang menjadi ajang
perjudian diantaranya adalah sabung ayam yang begitu populer dalam masyarkat
karena ayam jantan diidentifikasikan sebagai lambang ego lelaki. Pertaruhan
dalam sabung ayam bukanlah mengenai pertaruhan uang ataupun materi melainkan
pertaruhan status dan harga diri yang hal itu menyangkut hidup dan mati. Karena
hal itulah yang menyebabkan adanya seseorang yang menempuh jalan kekerasan
ataupun menjadi budak agar bisa melunasi hutang-hutangnya.
Dengan berbagai
akibat yang ditimbulkannya maka didapati peraturan yang melarang adanya sabung
ayam begitu pula dengan agama Islam yang melarang adanya perjudian. Namun
banyak raja dalam kurun waktu niaga yang tidak memasukan praktik sabung ayam
sebagai praktik yang dilarang. Seperti halnya pada masa kesultanan Ala’ad-din
di Aceh, beliau menganggap sabung ayam sebagai perjudian dan melarangnya,
tetapi dijalankan kembali praktik tersebut oleh raja-raja penerusnya termmasuk
pada masa sultan Iskandar Muda.
Permainan lain
yang digunakan sebagai ajang judi adalah lomba keras-kerasan biji kemiri yang
juga popuer di masyarakat. Perlombaan ini dilakukan dengan sebuah biji kemiri
ditempatkan diatas biji kemiri lainnya dan keduanya kemudian dipukul dengan
tongkat rata yang panjang, biji kemiri yang pecah duluanlah yang kalah. Raja
Mataram pada waktu itu, Sultan Agung menyukai peermainan ini dan menjadi
pelindung utama dari permainana ini.
Selanjutnya ada yang disebut permainan kartu yang
dikenalkan oleh orang Cina yang kemudian diikuti oleh praktik perjudian itu
sendiri. Bahkan dalam permainan ini judi sudah sangat melekat, kalau mau bermain
kartu harus memasang taruhan pula bahkan masyarakat pada zaman itu akan merasa
janggal jika bermain kartu tanpa judi. Sama halnya denga permainan kartu, pada
permainan catur atau juga bisa disebut ‘permainan dam’ juga terdapat judi didalamnya, namun yang membedakannya
adalah permainan ini hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan dan orang orang
penting saja sehingga membuat permainan ini bersifat lebih eksklusif dari
permainan lainnya.
Selain permainan yang mengandung unsur judi, namun
tidak sedikit pula permainan yang berkembang pada waktu itu yang tidak terdapat
unsur judi di dalamnya. Misalnya permainan layang-layang yang menjadi tren di
kalangan orang dewasa pada waktu itu dan dipercaya terdapat kekuatan magis yang
menjamin susutnya banjir dan perubahan musim. Permainan gangsing yang
dipercanya dapat mempercepat ranumnya padi dan yang terakhir adalah sepak
takraw atau dalam bahasa melayu disebut sepak raga. Permainan ini difungsikan
untuk melenturkan dan merilekskan tubuh akibat dari pekerjaan yang telah
dilakukan atau bahkan dari terlalu lama duduk akibat bermain catur.
Selain hiburan yang disalurkan lewat berbagai macam
permainan diatas. Masyarakat Asia Tenggara juga mengeksprasikan dirinya lewat
jalur lainnya misalnya menyanyi, menari, dan mementas. Sebagaimana yang terihat
oleh orang-orang Eropa saat mereka dijamu di istana. Mereka disuguhkan
tarian-tarian dengan iringan musik serta pertunjukan sandiwara yang berlangsung
siang dan malam tanpa henti. Tidak hanya di dalam istana, bentuk-bentuk sandiwara,
tarian dan musik juga dibawakan ke berbagai daerah-daerah oleh para pemain
keliling agar supaya masyarakat biasa juga dapat menikmati kesenian tersebut.
Antara tari, teater, dan musik ketiganya saling
berhubungan satu sama lain. Misalnya tari, dalam ukiran-ukiran yang terdapat di
candi Prambanan dan Angkorwat yang menggambarkan dengan jelas pengaruh India
dalam kesenian tari di Asia Tenggara. Di Asia Tenggara kebanyakan cerita yang
digunakan untuk teater adalah epos-epos dari India, misalnya Ramayana dan
Mahabharata. Setelah Islam masuk di Nusantara khususnya di Jawa, para penyiar
dakwah Islamlah yang melakukan transformasi cerita-cerita dari India menjadi
lebih Islami dan dengan ditambahkannya tokoh lawak asli bumiputera yakni punakawan. Dan yang terakhir mengenai
musik, dua kesenian sebelumnya tidak akan menjadi semarak tanpa adanya alunan
musik yang mengiringinya. Alat musik ini seperti apa yang telah dicatat oleh
Alcina hanya orang kalangan atas saja yang dapat membelinya sehingga sangat
erat kaitannya dengan status sosial seseorang.
Selain tentang
hal-hal di atas, antusianisme bangsa Asia Tenggara juga terlihat pada kegiatan
tulis-menulisnya. Para pengunjung dari Eropa sampai terkesiam dengan kemampuan
menulis yang dimiliki masyarakat Asia Tenggara yang dulunya mereka pikir
peradabannya masih jauh terbelakang. Dalam perkemangannya tulis-menulis ini
sudah ditingkatkan metode belajarnya menjadi sekolah-sekolah.
Saat Islam masuk
di wilayah Asia Tenggara tersebar juga tulisan-tulisan arab pada abad ke-14
yang mempengaruhi bahasa Melayu. Karena banyak kata serapan dari bahasa Arab. Kota-kota
yang berada di tepi pantai utara Jawa menjadi tempat pusat polemik keagamaan tentang
batas otordoksi dalam mistismesufi. Pada abad ke-17 Makasar mencapai puncaknya
dalam tradisi literer sedangkan di Kamboja pada abad yang sama mencapai tingkat
kesusatraan penuh ilham.

Comments
Post a Comment