Review Buku: “Ketika Sejarah Berseragam, Membongkar Ideologi Militer Dalam Menyusun Sejarah Indoneisa”
Penulis : Katharine E. McGrego
Penerjemah :
Djohana Oka
Penerbit :
Yogyakarta; Syarikat, 2008
Tebal :
XXVII + 459 hlm
Dalam buku karya dari Khatarine ini
secara garis besar mengisahkan tentang kiprah militer yang ikut andil dalam
penulisan sejarah bangsa. Periodesasi yang digunakan dalam buku ini lebih
berfous pada masa pemerintahan presiden Soeharto yang kala itu memang sangat
mengedepankan kepemimpinan yang bersifat militeristik. Penulisan judul “Ketika
Sejarah Berseragam, Membongkar Ideologi Militer Dalam Menyusun Sejarah
Indonesia” dapat dipahami maksud dari penulis yang menggunakan kata sejarah
berseragam dimaksudkan bahwa pikiran rakyat telah diseragamkan atau dengan kata
lain diindoktrinasikan oleh rezim yang berkuasa. Pikiran rakyat dibentuk agar
selaras dengan pikiran pemerintah yang kala itu mengagungkan kaum militer
sebagai pahlawan sejati. Bentuk-bentuk indoktrinasi yang dilakakukan pemerintah
kala itu melalui buku, film, museum, pelatihan-pelatihan, dll.
Untuk mengoptimalkan pratik
indoktrinasi, pemerintah melakukan upaya pembuatan narasi sejarah versi mereka
sendiri untuk membentuk suatu legitimasi atas kekuasaan mereka. Sepeti yang dikatakan
Michael Sturner yakni “Di negeri tanpa
sejarah, masa depan dikuasai oleh mereka yang menguasai isi ingatan, yang
merumuskan konsep dan menafsirkan masa lalu”. Pada zaman dahhulu hingga
sekarang sejarah selalu menjadi alat yang efetif bagi penguasa untuk mencari
legitimasi maupun untuk melanggengkan kekuasaanya.
Dalam
setiap aksi yang dilakukan pemerintah selalu muncul satu orang tokoh yangmana
tokoh ini adalah ujung tombaknya pemerintah, seorang propagandis pemerintah,
beliau bernama Nugroho Notosusanto. Selama masa pemerintahan orde baru beliau
pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI pada tahun 1965-1985. Beliau
juga pernah menjabat sebagai mentri pendidikan pada masa orde baru guna
menyebarluaskan doktrin pemerintah kepada masyarakat melalui cerita-cerita
sejarah dalam buku pendidikan, film-film dokumenter, dan museum.
Karya
yang pernah dibuat beliau bersama Angkatan Darat dengan komando dari jendral
A.H. Nasution adalah buku yang berjudul “Sedjarah Sngkat Perdjuangan
Bersendjata Bangsa Indonesia” yang digunakan sebagai pembelaan atas tafsiran
militer pada peristiwa pemberontakan kelompok komunis di Madiun pada tahun
1948. Beliau juga ikut dalam sebuah proyek sebagai penanggung jawab untuk
penyusunan buku induk sejarah bangsa yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia
khususnya pada volume lima dan enam. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa
hanya orang-orang dari militerlah yang berperan aktif dalam menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa dari ancaman disintegrasi dengan menafikan beberapa fakta
bahwasannya ada sebagian dari kelompok militer yang memaikan peran penting
terhadap pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah.
Pada
masa orde baru juga dibangun monumen yang bertujuan untuk melakukan
desoekarnonisasi (menghilangkan pengaruh Soekarno) dan juga agar supaya
masyarakat tahu peran-perang militer yang dianggap sebagai pahlawan nasional. Salah
satu contoh monumen tersebut adalah Diorama Monumen Nasional yang telah ada
seja masa Soekarno. Namun pada masa Soeharto diorama tersebut dirubah sesuai
dengan versi Soeharto dengan menghilangkan beberapa adegan yang dirasa tidak
penting. Dalam versi Soeharto diorama tersebut memperlihatkan kewibawaan
Soekarno dalam memberantas komunis di Indonesia. Ada pula sumur lubang buaya
yang dijadikan sebagai monumen oleh orde baru yang yang di sekitar monumen
lubang buaya dibangun pula monumen Pancasila Sakti dimana dalam monumen
tersebut memperlihatan kebengisan dan kesadisan kelompok komunis terhadap para
ketujuh jendral yang memiliki jasa besar bagi negeri.
Sepak
terjang beliau (Nugroho Notosusanto) sebagai propagandis bagi penguasa orde
baru bisa dibilang cukup sukses dalam menanamkan pemikiran-pemikiran militer ke
dalam masyarakat. Bahkan setelah tumbangnya rezim orde baru pengaruh dari
pemikiran masih tetap eksis diantara masyarakat.
Pada
bagian selanjutnya dalam buku ini, Khatarine juga menyoroti bagaimana peran
militer dalam kancah perpolitikan bangsa. Akibat dari pemberlakuan keadaan
darurat tahun 1957 dan 1963 serta digunakannya konsep jalan tengah yang prakarsai
oleh A.H Nasution membuat militer memiliki dua kewenangan yakni dalam bidang
pertahanan dan sosialpolitik. Konsep ini dikenal secara luas sebagai konsep
dwifungsi militer. Sebelumnya pada pertengahan tahun 1950-an militer telah
memiliki kewenangan demikian namun hal tersebut masih samar-samar. Kemudian setelah
adanya kudeta 1965 oleh PKI, konsep dwifungsi militer semakin ditegaskan oleh
pemerintah. Para anggota militer pada waktu itu selain menduduki jabatan yang
terdapat dimiliter juga memegang jabatan-jabatan kunci yang terdapat dalam
pemerintahan negara.
Setelah
wafatnya Nugroho Notosusanto dan pensiunnya anggota militer generasi tahun 1945.
Fokus militer maupun pusat sejarah ABRI tidak lagi menekankan pada tema-tema
sejarah pada masa sebelumnya, namun lebih keupaya militer untuk membentuk suatu
legitimasi untuk generasi selanjutnya. Kebijakan militer ini dilaksanakan salah
satunya oleh Museum Keprajuritan Nasional yang penekanan lebih kepada para
pahlawan sebelum kemerdekaan dan dukungan bagi perjuangan anti-kolonial.
Buku
ini dapat dianggap sebagai suatu oase yang memberikan perspektif baru yang sama sekali berbeda dari perspektif
pemerintah yang telah ada selama ini. Buku ini juga dapat digunakan sebagai
pembanding untuk buku-buku yang telah ada sebelumnya agar supaya masyarakat
umum maupun anggota milliter dapat melihat sejarah masa lalu yang lebih
objektif dan tidak terlalu terjebak dalam romantisme masa lalu yang dibuat orde
baru.
Comments
Post a Comment